Shaf Dalam Shalat (1)

July 29, 2008

Agar seseorang bisa mengerjakan shalatnya dengan baik, maka dia harus mengetahui segala ilmunya. Karena amal perbuatan yang tidak disertai dengan ilmu, niscaya tidak akan diterima oleh Allah. Dalam hal ini shaf merupakan salah satu bagian penting dalam pelaksanaan ritual shalat berjama’ah.

Dari Jabir ibn Samrah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: “Tidakkah kalian berbaris seperti ketika para malaikat berbaris di hadapan Tuhannya?” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana para malaikat berbaris ketika menghadap Tuhan mereka?” Beliau bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf sebaris demi sebaris. Mereka juga menyempurnakan shaf-shaf tersebut.” (Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Al-Shahih nomor 430 , al Nasaa’i di dalam al mujtabaa (II/72) dan Ibnu Khuzaimah di dalam al Shahih nomor 1544).

Kebanyakan para jama’ah tidak meluruskan shaf shalat dan membiarkan shaf shalat ada yang lobang.
Dari Anas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda yang artinya : “Dirikanlah (luruskanlah) shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari belakang punggungku.” Anas berkata: “Aku telah melihat salah seorang dari kami menempelkan tumitnya dengan kaki yang lain. Jika kamu akan mempraktekkan hal ini di zaman sekarang, pasti kamu akan menjumpai salah seorang dari mereka seperti keledai yang tidak bisa diam.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam al Musnad nomor 3720, al Mukhlis di dalam al Fawaid (I/10/2), Sa’id ibn Manshur di dalam al Sunan, dan al Ismaili sebagaimana di dalam Fath al Baary (II/211). Sanad hadits ini adalah shahih menurut syarat al Bukhari dan Muslim seperti disebutkan di dalam al Silsilah al Shahihah).

Oleh karena itu Busyair ibn Yasar al Anshari mengatakan sebuah riwayat dari Anas bahwa ketika dia datang ke kota Madinah ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Apa yang Anda ingkari dari perbuatan kami sejak sepeninggal Rasulullah?” Dia menjawab: “Tidak ada perbuatan kalian yang aku ingkari kecuali ketika kalian tidak meluruskan shaf-shaf kalian.” (Diriwayatkan oleh al Bukhary di dalam al Shahih nomor 724).
Al Nu’man ibn Basyir Radhiallahu ‘Anhu juga menjelaskan keterangan yang telah dikemukakan oleh Anas ibn Malik tentang perlunya menempelkan lutut. Lantas dia berkata: “Dulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdiri meng-hadap orang-orang seraya bersabda: “Dirikanlah (luruskanlah) shaf-shaf (beliau mengulangnya sebanyak tiga kali). Demi Allah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menceraiberaikan hati kalian.” Al Nu’man berkata: “Lantas aku melihat seseorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, menempelkan lututnya dengan lutut temannya dan menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam al Sunan, Ibn Hibban di dalam al Shahih, Ahmad di dalam al Musnad dan al Daulabi di dalam al Kunaa wa al Asmaa’ dengan sanad yang shahih). Sedangkan al Bukhari meriwayatkan perkataan al Nu’man di dalam kitab al Shahihnya.

Al Albani mengomentari hadits Anas Radhiallahu ‘Anhu dan Nu’man Radhiallahu ‘Anhu di atas sebagai berikut: “Di dalam kedua hadits ini ada beberapa faedah yang sangat penting:

Pertama, mendirikan dan meluruskan shaf hukumnya wajib karena ada perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kalimat perintah itu pada asalnya berarti wajib, kecuali ada qarinah (petunjuk lain) yang mengalihkan dari pengertiannya semula, seperti yang telah ditetapkan dalam kaedah-kaedah ushul al fiqh. Sedangkan qarinah yang ada dalam hadits tersebut malah memperkuat kewajiban hal ini. Qarinah itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya : “…atau Allah akan menceraiberaikan hati kalian.” Pernyataan seperti ini sebenarnya adalah sebuah ancaman, tidak akan dikemukakan untuk sesuatu yang tidak wajib.

Kedua, sesungguhnya meluruskan shaf seperti yang telah disebutkan hanya bisa dilakukan dengan cara menempelkan bahu dengan bahu dan dengan menempelkan sisi kaki. Karena perbuatan inilah yang telah dicontohkan oleh para sahabat Radhiallahu ‘Anhum ketika mereka diperintahkan untuk mendirikan (meluruskan) shaf.” (Lihat Syarh Rawdl al Thaalib karya al Syaikh Zakaria al Anshari).
Dari Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda yang artinya: “Dirikanlah shaf dan luruskanlah antara bahu, tutuplah ruang kosong (di antara shaf) dan janganlah kalian biarkan ada lobang untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambung hubungan dengannya. Dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutus (hubungan) dengannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam al Sunan dan dianggap shahih oleh Ibn Khuzaimah dan al Hakim).

Al Syaikh al Albani berkata di dalam al Silsilah al Dha’ifah (II/323) ketika mengomentari orang-orang yang mengatakan tentang kesunahan mengisi ruang kosong di antara shaf: “Bagaimana mengisi ruang yang kosong di antara shaf dianggap sebagai perbuatan yang sunah saja?” Setelah menyatakan keheranannya itu, al Albani menyebutkan sebuah hadits dan selanjutnya berkata: “Yang benar, menutup ruang kosong di antara shaf hukumnya adalah wajib.”

Ketiga, hati mereka akan saling bermusuhan dan mengalami banyak perselisihan pandangan. Karena di dalam hadits an Nu’man disebutkan sebuah konsep yang cukup terkenal dikalangan ahli jiwa. Konsep itu adalah ‘kerusakan lahir bisa mengakibatkan kerusakan batin, demikian juga sebaliknya. Padahal dalam perintah meluruskan dan merapatkan shaf terdapat unsur perekat jiwa yang akan menjalin hubungan persaudaraan dan keinginan saling tolong-menolong. Bagaimana tidak?! Bukankah bahu si miskin berhimpitan dengan bahu si konglomerat, kaki si kuat melekat dengan kaki si lemah. Dan semuanya berada dalam satu shaf, bagaikan bangunan yang tersusun sangat kuat.

Keempat, mereka kehilangan pahala yang sangat besar seperti yang telah diberitakan dalam beberapa hadits shahih. Di antaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat membacakan shalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf.” (Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam al Musnad, Ibnu Majah di dalam al Sunan dan Ibnu Khuzaimah di dalam al Shahih. Sedangkan sanad hadits ini berkualitas shahih).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya: “Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya). (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam al Sunan Ibnu Khuzaimah di dalam al Shahih. Dan kualitas hadits ini adalah shahih).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling lunak bahunya di dalam shalat (karena mau diseret untuk maju atau bergeser ke samping guna mengisi ruang kosong di dalam shaf). Tidak ada selangkah kakipun yang lebih besar pahalanya dibanding dengan selangkah kaki yang digunakan seseorang untuk berjalan ke sebuah lobang di antara shaf, lantas dia mengisinya.” (Diriwayatkan oleh al Thabrani di dalam al Awsath dan Ibnu Hibban di dalam al Shahih. Lihat juga Majma’al Zawaid dan al Targhiib wa al Tarhiib).
“Barangsiapa yang mengisi lobang di dalam shaf, maka Allah akan mengangkat derajatnya karena upayanya untuk mengisi lobang tersebut. Dan Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di dalam surga.” (Diriwayatkan oleh al Thabrani di dalam al Awsath dari hadits riwayat ‘Aisyah. Begitu juga dengan Ibnu Majah meriwayatkan darinya. Hadits serupa dari Abu Hurairah. Hadits tersebut berkualitas shahih seperti yang tercantum dalam Shahih al Targhiib).

bersambung….

Entry Filed under: Shalat. Tags: , , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Assalaamu ‘alaikum

Ahlan wa sahlan, selamat datang di arifabutholhah.wordpress.com. Blog ini berisi artikel-artikel Islam yang diambil dari berbagai sumber, antum boleh mengambil dan menyebarluaskan artikel-artikel tersebut dengan menyertakan sumbernya. Mohon koreksi jika ada yang salah. Jazaakumullaahu khoiron atas kunjungan dan kerjasamanya.

Halaman

Kalender

July 2008
S M T W T F S
    Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Smart Mark Reader

Jika antum ingin tahu lebih banyak tentang teknologi untuk mendesain Lembar Jawab Komputer, membaca dan mengoreksinya, disertai analisisnya silakan kunjungi http://smrindonesia.com

Kategori

Sedikit Mengingatkan

Dari Abi Hurairah, beliau berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Yang paling afdhal adalah ucapan Laa ilaaha illallaah , dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman. “ Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya

Blogroll

Artikel Terbaru

Arsip

Komentar Terbaru

info ternak on Keutamaan Ramadhan
Arif Darmawan on Tanda Keikhlasan Adalah Menyem…
syifa on Tanda Keikhlasan Adalah Menyem…
deden hms on Cinta Kepada Allah
Wanah on Kisah Ashhabul Ukhdud

Sedikit Nasehat

Dari ‘Ubadah bin Shomit – radhiyallaahu’anhu – berkata, telah bersabda Rasulullah : Barang siapa yang bersyahadat laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syarikalahu. Dan (bersaksi) bahwasannya Muhammad adalah seorang hamba Allah dan Rasul Nya. Dan bahwasannya ‘Isa adalah hamba Allah, Rasul Nya dan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam, serta ruh daripada Nya. Dan (bersaksi bahwasannya) sorga adalah benar adanya dan nerakapun benar adanya. Maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam sorga bagaimanapun amalannya. (Diriwayatkan oleh Bukhori : Kitabul Anbiya’ no 3435 ; Muslim : Kitabul Iman no 46,47 ; dan Ahmad : 5/314)

Blog Stats

Top Posts

Top Clicks

Cem-Macem

Spam Blocked

Tags

Adab Adzan akhlak Al-Isyq Cinta Dakwah Definisi 'Id dosa Firqah Hukum Shalat 'Id Iblis Iqomah Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah Al-Muzanni Jamaah Jin Khamr Manhaj Masjid Nasehat Qadha Sakit Salaf sandal Shaf Shalat Shalat jamaah Shalat Sunnah Shifat Shalat 'Id Sunnah 'Id Syahadat Syaithan Syirik Tafsir QS. Al-An'am: 82 Tafsir QS. Al-Baqarah: 165 Tafsir QS. Al-Isra': 57 Tafsir QS. Al A'raf : 191-192 Tafsir QS. At-Taubah: 24 Tafsir QS. At-Taubah: 31 Tafsir QS. Az-Zukhruf: 26-27 Tafsir QS.Fathir : 13-14 Tauhid Tempat Shalat 'Id ulama Waktu Shalat 'Id Wanita