Mengkafirkan Penguasa

August 8, 2008

Telah ditujukan sebuah pertanyaan berikut kepada al -’Allamah al-Muhadditsin al-Albani Rahimahullah :
“Adalah telah jelas bagi anda wahai syaikh……. tentang medan Afganistan, disana terdapat banyak jamaah dan firqah-firqah sesat yang ternyata mampu menebarkan pemikiran-pemikirannya yang keluar dari manhaj salafu ash-shalih ke tengah-tengah para pemuda salafi yang ikut serta berjihad di Afganistan. Di antara pemikiran ini adalah Takfir (pengkafiran) terhadap para penguasa !, dan menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang menurut anggapan mereka sudah ditinggalkan, seperti pembunuhan. Sekarang, setelah para pemuda salafi ini pulang ke negerinya, mereka melancarkan penyebaran pemikiran dan syubhat-syubhat ini ke tengah-tengah kami. Oleh karena itu kami mengharapkan dari Fadhiilatikum untuk menjelaskan permasalahan ini. Jazakumullah khair.

Jawaban Syaikh Nashiruddin al-’Albani sebagai berikut :
“Sesungguhnya masalah Takfir (pengkafiran), bukan saja terhadap para penguasa, tetapi juga terhadap rakyat (orang-orang di bawah kekuasaan para penguasa), merupakan fitnah lama yang dibangun oleh salah satu firqah Islamiyah yang sudah lama dikenal dengan nama Khawarij. Khawarij terdiri dari beberapa kelompok yang pernah disebutkan dalam beberapa kitab, diantaranya satu kelompok yang hingga kini masih tetap ada dengan sebutan lain yaitu al-Ibadhiyah .

Mereka mengatakan bahwa: “Kami bukanlah khawarij…….” Padahal antum semua mengetahui bahwa sebuah istilah lain tidaklah bisa mengubah hakekat suatu perkara yang barangnya sama. Dan ternyata mereka mempunyai sejumlah titik temu dengan khawarij dalam hal mengkafirkan orang-orang yang melakukan perbuatan dosa besar.

Sekarang, didapati sebagian jamaah Islamiyah yang mempunyai titik temu dengan dakwah haq dalam hal ittiba’ (mengikuti-pen-) kepada kitabullah dan sunnah Nabi-Nya, akan tetapi sangat disayangkan bahwa mereka terjatuh kembali ke dalam sikap keluar dari al-Kitab dan as-sunnah dengan mengatasnamakan al-Kitab dan as-Sunnah.
Faktor penyebabnya ialah terpulang pada dua perkara yang berkenaan dengan pemahaman dan kritik.
Pertama: karena dangkalnya ilmu dan sedikitnya memahami agama.
Kedua, dan ini merupakan hal yang sangat penting: mereka tidak memahami kaidah-kaidah syari’ah padahal kaidah-kaidah ini merupakan asas dakwah Islamiyah yang shahih (benar) dan barangsiapa yang keluar darinya akan termasuk ke dalam firqah yang menyimpang dari jama’ah yang dipuji-puji oleh Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) dalam beberapa haditsnya, bahkan Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan sebuah dalil yang tegas lagi jelas bahwa barangsiapa yang keluar dari padanya, berarti ia telah melakukan penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu firman Allah (yang terjemahannya) :
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya kaum mukminin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’ : 115).

Allah ‘Azza wa Jalla untuk suatu perkara yang sangat jelas bagi Ahlu ‘Ilmu, tidak membatasi firman-Nya (yang terjemahnya): ” Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk baginya. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu,..”
Allah tidak mengatakan demikian, tetapi disamping “Penentangan terhadap Rasul”, Allah tambahkan pula “mengikuti (ittiba’) pada jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin”. Maka Dia berfirman (yang terjemahannya): “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya kaum mukminin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’ : 115)

Dengan demikian : “mengikuti jalannya orang-orang mukmin” dan “tidak mengikuti jalannya orang-orang mukmin”, merupakan perkara yang sangat penting berkenaan dengan positif atau negatif. Maka barangsiapa yang mengikuti jalannya orang-orang mukmin, maka dialah orang yang selamat di sisi Rabbul ‘Aalamin. Sedangkan orang yang menyelisihi jalannya kaum mukminin, maka cukup baginya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Dari sini tampak sekali kelompok-kelompok ummat yang sesat ………. baik zaman dahulu maupun kini, lantaran mereka tidak komitmen terhadap jalannya kaum mukminin. Tetapi disebabkan mereka lebih memperturutkan akal pikiran mereka, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka di dalam menafsirkan al-Kitab dan as-Sunnah, selanjutnya di atas penafsiran yang demikian itu mereka membangun konklusi (kesimpulan) yang sangat berbahaya, di antaranya: “Keluar dari apa yang ditempuh oleh salaf ash-shalih”.
Point ini banyak dilupakan oleh kalangan orang yang seharusnya tahu, apalagi orang-orang awam, apalagi orang-orang yang dikenal sebagai jamaah takfir (jamaah yang suka mengkafirkan). Mereka itu, boleh jadi dalam kedalaman relung jiwa mereka, merupakan orang-orang shalih atau orang-orang yang ikhlash, akan tetapi hanya itu semata tidaklah cukup untuk menjadikan dirinya selamat dan beruntung di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Seorang Muslim haruslah menggabungkan dua perkara yaitu: ikhlash dalam berniat karena Allah ‘Azza wa Jalla, dan baik dalam ber-ittiba’ kepada apa yang ditempuh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dengan demikian, tidaklah cukup seorang Muslim hanya bermodal ikhlash dan sungguh-sungguh dalam semangatnya mengamalkan al-Kitab dan as-Sunnah serta dalam mendakwahkan keduanya, tetapi haruslah ditambahkan padanya agar manhaj yang ditempuhnya adalah manhaj yang benar lagi lurus.

(disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 4/Th.III/1419-1998)

Entry Filed under: Firqoh. Tags: , , , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Assalaamu ‘alaikum

Ahlan wa sahlan, selamat datang di arifabutholhah.wordpress.com. Blog ini berisi artikel-artikel Islam yang diambil dari berbagai sumber, antum boleh mengambil dan menyebarluaskan artikel-artikel tersebut dengan menyertakan sumbernya. Mohon koreksi jika ada yang salah. Jazaakumullaahu khoiron atas kunjungan dan kerjasamanya.

Halaman

Kalender

August 2008
S M T W T F S
« Jul   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Smart Mark Reader

Jika antum ingin tahu lebih banyak tentang teknologi untuk mendesain Lembar Jawab Komputer, membaca dan mengoreksinya, disertai analisisnya silakan kunjungi http://smrindonesia.com

Kategori

Sedikit Mengingatkan

Dari Abi Hurairah, beliau berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Yang paling afdhal adalah ucapan Laa ilaaha illallaah , dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman. “ Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya

Blogroll

Artikel Terbaru

Arsip

Komentar Terbaru

info ternak on Keutamaan Ramadhan
Arif Darmawan on Tanda Keikhlasan Adalah Menyem…
syifa on Tanda Keikhlasan Adalah Menyem…
deden hms on Cinta Kepada Allah
Wanah on Kisah Ashhabul Ukhdud

Sedikit Nasehat

Dari ‘Ubadah bin Shomit – radhiyallaahu’anhu – berkata, telah bersabda Rasulullah : Barang siapa yang bersyahadat laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syarikalahu. Dan (bersaksi) bahwasannya Muhammad adalah seorang hamba Allah dan Rasul Nya. Dan bahwasannya ‘Isa adalah hamba Allah, Rasul Nya dan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam, serta ruh daripada Nya. Dan (bersaksi bahwasannya) sorga adalah benar adanya dan nerakapun benar adanya. Maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam sorga bagaimanapun amalannya. (Diriwayatkan oleh Bukhori : Kitabul Anbiya’ no 3435 ; Muslim : Kitabul Iman no 46,47 ; dan Ahmad : 5/314)

Blog Stats

Top Posts

Top Clicks

Cem-Macem

Spam Blocked

Tags

Adab Adzan akhlak Al-Isyq Cinta Dakwah Definisi 'Id dosa Firqah Hukum Shalat 'Id Iblis Iqomah Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah Al-Muzanni Jamaah Jin Khamr Manhaj Masjid Nasehat Qadha Sakit Salaf sandal Shaf Shalat Shalat jamaah Shalat Sunnah Shifat Shalat 'Id Sunnah 'Id Syahadat Syaithan Syirik Tafsir QS. Al-An'am: 82 Tafsir QS. Al-Baqarah: 165 Tafsir QS. Al-Isra': 57 Tafsir QS. Al A'raf : 191-192 Tafsir QS. At-Taubah: 24 Tafsir QS. At-Taubah: 31 Tafsir QS. Az-Zukhruf: 26-27 Tafsir QS.Fathir : 13-14 Tauhid Tempat Shalat 'Id ulama Waktu Shalat 'Id Wanita