Adab Makan Dan Minum

October 28, 2008

Seorang muslim ketika makan dan minum bertujuan untuk memelihara kesehatan badannya agar bisa melak-sanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Dengan ibadah tersebut dia akan mendapatkan kemuliaan dan kesenangan di akhirat. Karenanya seorang muslim tidak seharusnya makan dan minum semata karena hawa nafsu.

Orang muslim menghadapi hidangan dengan rasa syukur dan taqwa, lalu makan dan minum sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , yaitu sebagai berikut:

A. Adab sebelum makan

* Makan dan minum dari yang halal dan baik, menghindarkan dari yang haram dan meragukan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah olehmu dari (sesuatu) yang baik yang Kami anugerahkan padamu.” (Al-Baqarah: 172).

* Makan dan minum dengan niat untuk menguatkan diri dalam beribadah kepada Allah, agar mendapatkan pahala atas apa yang dimakan dan diminumnya. Karena, sesuatu yang mubah apabila diniati baik maka akan menjadi sebuah ketaatan yang menghasilkan pahala bagi seorang muslim.

* Mencuci tangan sebelum makan apabila ada kotoran di tangannya atau masih belum yakin dengan kebesihan tangannya.

* Meletakkan makanan di atas sufrah (alas) tempat makanan dan ditelakkan di atas lantai atau tanah, tidak di atas meja makan. Ini lebih mendekatkan kepada sikap merendahkan hati (tawadhu’) di dalam menerima nikmat Allah, sebagaimana Anas radhiallahu anhu menjelaskan: “Rasulullah shallallahu alaihi wasalam tidak makan di atas meja dan tidak pula di mangkok.” (HR. Al-Bukhari).

* Duduk dengan sopan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam : “Aku tidak makan dengan bertelekan/bersandar, sesungguhnya aku seorang hamba, aku makan sebagaimana seorang hamba makan dan aku duduk sebagaimana seorang hamba duduk.” (HR. Al-Bukhari).

* Meridhai makanan yang ada, tidak mencaci dan mencela makanan. Apabila menyukainya dimakan, dan apabila tidak ditinggalkan. Abu Hurairah radhiallahu anhu menjelaskan: “Rasulullah shallallahu alaihi wasalam tidak pernah mencela makanan, apabila beliau menyukainya ingin beliau memakannya, jika tidak suka , beliau meninggalkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

* Makan bersama-sama, dengan tamu atau dengan isteri dan anaknya, atau dengan pembantunya. Dalam sebuah riwayat: “Berkumpullan kamu sekalian dalam makananmu, niscaya diberkahi kamu sekalian di dalamnya.” (Abu Daud dan At-Tirmidzi, dengan sa-nad hasan karena banyak syahid-nya.)

B. Adab di saat bersantap

* Memulai makan atau minum dengan mengucapkan basmalah, sesuai sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam : “Apabila salah satu di antara kamu akan makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala. Apabila ia lupa menyebut nama Allah Ta’ala (di permulaannya), maka sebutlah nama Allah dengan meng-ucapkan, ‘Bismillahi awwalahu wa akhirahu’.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia katakan hasan shahih).

* Mengakhiri makan dengan mengucapkan alhamdulillah, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasalam mengajarkannya: “Barangsiapa yang selesai makan mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

‘Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah memberi makan kepadaku, dan telah memberiku rizki dengan tanpa adanya kemampuan dan kekuatan dariku’, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. At-Tirmidzi, ia katakan hasan shahih).

Atau membaca doa-doa lain yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dalam sunnah-sunnahnya yang shahih.

* Makan dengan tiga jari tangan kanannya, mengecilkan suapan, dan memakan yang paling dekat dengannya, tidak dari tengah piring, sebagaimnana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam kepada Amr bin Salamah:
“Hai bocah, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di dekatmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain Rasulllah shallallahu alaihi wasalam bersabda: “Berkah itu turun di tengah makanan, maka makanlah kamu sekalian dari pinggirnya dan janganlah kalian makan dari tengahnya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia katakan hasan shahih).

Termasuk sunnah Rasul shallallahu alaihi wasalam , yaitu makan dengan jari, bila memungkinkan makanan itu dimakan dengan tiga jari, apabila tidak mungkin karena termasuk makanan yang berair boleh dimakan dengan mamakai sendok.

* Apabila makanan yang ia makan terjatuh, sebaiknya diambil dan dibersihkan dari kotoran, lalu dimakan setelah bersih. Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda: “Apabila sepotong makananmu jatuh, maka ambillah dan bersihkanlah apabila ada bagian yang kotor, kemudian makanlah (setelah bersih), jangan membiarkan makanan itu diambil oleh syaitan.” (HR. Muslim).

* Mengunyah dengan baik dan menjilat jari tangannya dari bekas makanan. Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , dari Ka’ab radhiallahu anhu , ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasalam makan dengan menggunakan tiga jari dan tatkala selesai beliau menjilat ketiga jarinya itu.”(HR. Muslim).

* Menghindari makan terlalu kenyang, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam : “Tidaklah anak Adam memenuhi suatu bejana yang lebih buruk daripada memenuhi perutnya. Cukuplah bagi anak Adam dengan beberapa suap untuk menopang punggungnya. Apabila tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, hasan shahih).

* Tidak meniup/bernafas di dalam makanan yang panas, tidak memakannya kecuali makanan itu telah dingin, dan tidak bernafas di dalam tempat minum, namun bernafas di luarnya tiga kali. Anas menjelaskan, “bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bernafas tiga kali di saat beliau minum”. Dalam riwayat lain dijelaskan, dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma , ia berkata: “Bahwasanya Rasulullah melarang bernafas di dalam tempat minum atau meniup di dalamnya.” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Bukhari dengan lafazh lain).

* Tidak minum dengan sekaligus habis. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma , Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda: “Kalian jangan minum (segelas dihabiskan) sekaligus seperti unta, tetapi minumlah dua atau tiga kali, dan sebelumnya hendaklah membaca basmalah, kemudian sesudahnya membaca alhamdulillah.” (HR. At-Tirmidzi dan ia katakan, hasan shahih).

* Tidak minum langsung dari mulut teko/poci (makruh hukumnya). Dari Abu Hurairah radiallahuanhu, ia berkata: “Rasulullah melarang seseorang minum dari mulut tempat minuman atau teko.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Itulah di antara adab-adab makan dan minum yang bisa kita laksanakan sebagai wujud dari kecintaan kita kepada sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasalam .

Sumber : buletin An-Nur 7 April 2004

Entry Filed under: Adab dan Akhlaq. Tags: , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Assalaamu ‘alaikum

Ahlan wa sahlan, selamat datang di arifabutholhah.wordpress.com. Blog ini berisi artikel-artikel Islam yang diambil dari berbagai sumber, antum boleh mengambil dan menyebarluaskan artikel-artikel tersebut dengan menyertakan sumbernya. Mohon koreksi jika ada yang salah. Jazaakumullaahu khoiron atas kunjungan dan kerjasamanya.

Halaman

Kalender

October 2008
S M T W T F S
« Aug   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Smart Mark Reader

Jika antum ingin tahu lebih banyak tentang teknologi untuk mendesain Lembar Jawab Komputer, membaca dan mengoreksinya, disertai analisisnya silakan kunjungi http://smrindonesia.com

Kategori

Sedikit Mengingatkan

Dari Abi Hurairah, beliau berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Yang paling afdhal adalah ucapan Laa ilaaha illallaah , dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman. “ Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya

Blogroll

Artikel Terbaru

Arsip

Komentar Terbaru

info ternak on Keutamaan Ramadhan
Arif Darmawan on Tanda Keikhlasan Adalah Menyem…
syifa on Tanda Keikhlasan Adalah Menyem…
deden hms on Cinta Kepada Allah
Wanah on Kisah Ashhabul Ukhdud

Sedikit Nasehat

Dari ‘Ubadah bin Shomit – radhiyallaahu’anhu – berkata, telah bersabda Rasulullah : Barang siapa yang bersyahadat laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syarikalahu. Dan (bersaksi) bahwasannya Muhammad adalah seorang hamba Allah dan Rasul Nya. Dan bahwasannya ‘Isa adalah hamba Allah, Rasul Nya dan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam, serta ruh daripada Nya. Dan (bersaksi bahwasannya) sorga adalah benar adanya dan nerakapun benar adanya. Maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam sorga bagaimanapun amalannya. (Diriwayatkan oleh Bukhori : Kitabul Anbiya’ no 3435 ; Muslim : Kitabul Iman no 46,47 ; dan Ahmad : 5/314)

Blog Stats

Top Posts

Top Clicks

Cem-Macem

Spam Blocked

Tags

Adab Adzan akhlak Al-Isyq Cinta Dakwah Definisi 'Id dosa Firqah Hukum Shalat 'Id Iblis Iqomah Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah Al-Muzanni Jamaah Jin Khamr Manhaj Masjid Nasehat Qadha Sakit Salaf sandal Shaf Shalat Shalat jamaah Shalat Sunnah Shifat Shalat 'Id Sunnah 'Id Syahadat Syaithan Syirik Tafsir QS. Al-An'am: 82 Tafsir QS. Al-Baqarah: 165 Tafsir QS. Al-Isra': 57 Tafsir QS. Al A'raf : 191-192 Tafsir QS. At-Taubah: 24 Tafsir QS. At-Taubah: 31 Tafsir QS. Az-Zukhruf: 26-27 Tafsir QS.Fathir : 13-14 Tauhid Tempat Shalat 'Id ulama Waktu Shalat 'Id Wanita