Tanda Keikhlasan Adalah Menyembunyikan Kekhusyu’an

February 3, 2009

Janganlah kita menilai bahwa seorang yang tampak khusyuk dalam beribadah, hatinya juga demikian. Sebab belum tentu hati orang tersebut tertuju apa yang dilakukannya tersebut, Jika ada orang yang berupaya untuk menampakkan kekhusyukkan terhadap orang lain, maka hukumnya adalah makruh. Karena tanda-tanda keikhlasan itu adalah menyembunyukan kekhusyukkan itu sendiri.

Hudzaifah radhiyallahu’anhu pernah berkata :

Jauhilah olehmu khusyu’ kemunafikan. Ada seeorang bertanya, “Apakah khusyu’ kemunafikan itu ? Hudzaifah menjawab :”Khuyu’ kemunafikan itu adalah engkau melihat jasad seseorang dalam keadaan khusyu’, sedangkan hatinya tidak dalam keadaan khusyu’”

Al Fadhil bin Iyad berkata,”Dimakruhkan terhadap seseorang untuk menampakkan kekhusyukkan lebih daripada yang ada di hatinya. Ada sebagian ulama yang melihat seseornag tampak khusyuk pada sisi kedua belah bahunya dan kedua belah tangannya. Kemudian dia berkata,”Wahai fulan , kekhusyukkan itu ada di sini.” Kemudian ulama itu menunjuk ke dadanya. “Dan bukanlah berada di sini.”Kemudian dia menunjuk ke kedua belah bahunya.

Ibnu Qayyim pernah berkata, pada suatu saat di menerangkan tentang perbedaan antara khusyu’ keimanan dan khusyu’ kemunafikan:”Khusyu’ keimanan adalah kekhuyukan hati terhadap Allah, dengan mengagungkan, membesarkan, tunduk dan takut dan merasa malu terhadap-Nya. Kemudian hati itu terasa terpecah-pecah, sesuai dengan perasaan malu dan kecintaan terhadap Allah. Kemudian di menyaksikkan nikmat-nikmat Allah dan dosa-dosanya terhadap Nya. Kemudian sang hati berada dalam kekhusyukan yang sangat mendalam dan tidak ada tepiannya sama sekali. Kemudia hal itu diikuti oleh kekhuyukkan anggota tubuhnya. Sedangkan khusyu’ kemunafikkan adalah kekhuyukkan yang hanya tampak pada anggota badan, dengan dibuat-buat dan berpura-pura.

Sedangkan kekhuyukkan di dalam shalat dapat dicapai oleh seseorang yang hatiunya selalu tertuju kepada shalat tersebut, selalumementingkannya dibandingkan masalah-masalah lain dan selalu lebihmengutamakannya dibandingkan dengan urusan-urusan lainnya. Pada saat itulah shalat akan mampu menjadikannya tenagng, damai, tenteram dan akan dapat menjadi penyedap pandangannya. Hal ini telah disabdakan Rasulullah SAW : “Penyedap pandangnku dijadikan di dalam shalat”(Shahihul Jami’ no.3124).

Dan Allah telah mengkatageorikan orang-orang yang khusyu baik laki-laki maupun perempuan sebagai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat hamba-Nya yang terpilih dan Allah telah menjanjikan kepada mereka maghfirah serta pahala yang teramat besar. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat Al Ahzab 35:

Di antara manfaat daripada kekhuyukkan ini adalah bahwa kekhuyukkan ini adalah dapat meringankan urusan shalat. Sebagimana yangtelah digambarkan oleh Ibnu Katsir dalam sebuah tafsirnya, yaitu pada saat beliau menafsirkan firman Allah yang berbunyi :”Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikina itu sungguh berat kecuali bagi orang orang yang khusyu (AL Baqarah 35).

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa makna ayat di atas adalah ,”Kesulitan-kesulitan shalat adalah sangat berat, kecuali bagi orang yang khusyu.”(Tafsir Ibnyu Katsir jil I, hal.125).

Kekhuyukkan merupakan sebuah masalah yang mempunyai peranan besar dan sangat mudah untuk menghilang. Dia juga merupakan sesuatu yang sangat langka, terutama pada zaman kita sekarang ini yang merupakan akhir zaman. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya pertama kali diangkat dari umat ini adalah khusyu’, sehingga engkau tidak akan melihat pada umat itu seorang yang khusyu’(Al Jami’ jil 2, hal.136. dengan sanad hasan)

Dinukil dari mukadimah kitab”33 Sababan Lil Khuyu’I Fis Shalaati” (terj:33 Kiat khusyu dalam Shalat”) karya Syaikh Muhamad Shalih Al Munajjid. Penerbit Pustaka AL Akautsar.

oleh : abu_salam

Website :

Entry Filed under: Tazkiyatun Nafs. .

2 Comments Add your own

  • 1. syifa  |  July 8, 2009 at 7:41 am

    tapi kalo lantar maksa2 menyembunyikan trus dicepet2in jadinya riya juga ya, bukan karena Allah… cara yang tepat gimana?

    Reply
    • 2. Arif Darmawan  |  August 19, 2009 at 6:48 am

      cara yg tepat utk ikhlas ya ibadah dengan rajin, ada orang maupun tidak ada orang.
      karena udah terbiasa ibadah maka harusnya tdk beda ibadah ketika ada orang maupun tidak.

      Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Assalaamu ‘alaikum

Ahlan wa sahlan, selamat datang di arifabutholhah.wordpress.com. Blog ini berisi artikel-artikel Islam yang diambil dari berbagai sumber, antum boleh mengambil dan menyebarluaskan artikel-artikel tersebut dengan menyertakan sumbernya. Mohon koreksi jika ada yang salah. Jazaakumullaahu khoiron atas kunjungan dan kerjasamanya.

Halaman

Kalender

February 2009
S M T W T F S
« Nov   Aug »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Smart Mark Reader

Jika antum ingin tahu lebih banyak tentang teknologi untuk mendesain Lembar Jawab Komputer, membaca dan mengoreksinya, disertai analisisnya silakan kunjungi http://smrindonesia.com

Kategori

Sedikit Mengingatkan

Dari Abi Hurairah, beliau berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh sekian cabang. Yang paling afdhal adalah ucapan Laa ilaaha illallaah , dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman. “ Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya

Blogroll

Artikel Terbaru

Arsip

Komentar Terbaru

info ternak on Keutamaan Ramadhan
Arif Darmawan on Tanda Keikhlasan Adalah Menyem…
syifa on Tanda Keikhlasan Adalah Menyem…
deden hms on Cinta Kepada Allah
Wanah on Kisah Ashhabul Ukhdud

Sedikit Nasehat

Dari ‘Ubadah bin Shomit – radhiyallaahu’anhu – berkata, telah bersabda Rasulullah : Barang siapa yang bersyahadat laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syarikalahu. Dan (bersaksi) bahwasannya Muhammad adalah seorang hamba Allah dan Rasul Nya. Dan bahwasannya ‘Isa adalah hamba Allah, Rasul Nya dan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam, serta ruh daripada Nya. Dan (bersaksi bahwasannya) sorga adalah benar adanya dan nerakapun benar adanya. Maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam sorga bagaimanapun amalannya. (Diriwayatkan oleh Bukhori : Kitabul Anbiya’ no 3435 ; Muslim : Kitabul Iman no 46,47 ; dan Ahmad : 5/314)

Blog Stats

Top Posts

Top Clicks

Cem-Macem

Spam Blocked

Tags

Adab Adzan akhlak Al-Isyq Cinta Dakwah Definisi 'Id dosa Firqah Hukum Shalat 'Id Iblis Iqomah Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah Al-Muzanni Jamaah Jin Khamr Manhaj Masjid Nasehat Qadha Sakit Salaf sandal Shaf Shalat Shalat jamaah Shalat Sunnah Shifat Shalat 'Id Sunnah 'Id Syahadat Syaithan Syirik Tafsir QS. Al-An'am: 82 Tafsir QS. Al-Baqarah: 165 Tafsir QS. Al-Isra': 57 Tafsir QS. Al A'raf : 191-192 Tafsir QS. At-Taubah: 24 Tafsir QS. At-Taubah: 31 Tafsir QS. Az-Zukhruf: 26-27 Tafsir QS.Fathir : 13-14 Tauhid Tempat Shalat 'Id ulama Waktu Shalat 'Id Wanita