Home > Kisah > Imam As Suyuthi, Ulama Serba Bisa

Imam As Suyuthi, Ulama Serba Bisa

Allah selalu menjaga keutuhan hadits Rasulullah melalui keberadaan para huffazh hadits yang menghafal hadits-hadits Nabi. Qalbu-qalbu mereka menjadi wadah penyimpan ilmunya. Usaha yang mereka lakukan tidaklah mudah. Membutuhkan ketelitian, ketekunan dan kecerdasan serta daya ingat yang kuat. Kesibukan mereka untuk menepis dusta atas nama Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam melalui penyeleksian antara hadits yang shahih dan hadits yang bermasalah (lemah, palsu dan lain-lain), menyebarkan hadits yang benar-benar penisbatannya kepada Rasulullah dan memperingatkan umat dari hadits-hadits lemah dan palsu agar diwaspadai dan disingkirkan dari umat.

Di antara tokoh terkemuka yang terhitung sebagai pakar hadits pada masanya, Imam Al ‘Allamah Al Hafizh Jalaludin As Suyuthi. Ulama ini pada zamannya dikenal sebagai seorang yang ‘alim dalam bidang hadits dan cabang-cabangnya, baik yang berkaitan dengan ilmu rijal, sanad, matan maupun kemampuan dalam mengambil istimbat hukum dari hadits.

Beliau lahir setelah waktu maghrib, malam Ahad pada permulaan tahun 849 H di daerah Al Asyuth, atau juga dikenal dengan As Suyuth. Secara lengkap ia bernama Abdur Rahman bin Muhammad bin Sabiquddin Abu Bakar bin Fakhruddin ‘Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khidr bin Najmuddin Abu Ash Shalah Ayyub bin Nashiruddin Muhammad bin Syaikh Hammamuddin Al Hammam bin Al Kamal bin Nashiruddin Al Mishri Al Khudhairi Al Suyuthi Ath Tholani Asy Syafi’i.

Nasab keluarganya bersambung kepada keluarga Persia yang pindah ke Mesir di distrik Khudhairiyah, timur Baghdad, dan kemudian bermukim di daerah Al Asyuth, sebelum kelahirannya. Namun ada keterangan lain yang menyebutkan bahwa ayahnya berdarah Arab. Allah menganugerahkan kepadanya kemudahan untuk meraih ilmu sejak kecil. Kecerdasan di atas rata-rata dengan lingkungan yang kondusif. Dia hidup di lingkungan keluarga yang kental nuansa ilmiahnya.

Sewaktu kecil, ayahnya pernah membawanya ke majlis Syaikh Muhammad Al Majdzub, dan memperoleh doa berkah darinya. Dia juga sempat diajak ke majlis Al Hafizh Ibnu Hajar dan mendapatkan ijazah (rekomendasi periwayatan umum) darinya.

Pada umur lima tahun sang ayah meninggal, sehingga ia tumbuh dalam keadaan yatim. Setelah itu ia berada di bawah pengasuhan beberapa ulama besar pada masa itu. Di antaranya, Kamaluddin bin Al Hammad. Di tangan ulama ini As Suyuthi kecil menghafal Al Qur’an saat berusia delapan tahun. Demikian pula kitab Al ‘Umdah, Minhajul Fiqh Wal Ushul dan Alfiyah Ibnu Malik, menjadi kitab-kitab berikutnya yang ia hafal di luar kepala.

Menjadi bagian kenikmatan yang diraih oleh As Suyuthi, ia hidup pada masa ulama besar yang sangat mendalami bidang-bidang ilmu yang beragam. Hal ini membekaskan pengaruh yang dalam pada diri ulama besar ini dalam aspek luasnya wawasan dan penguasaan ilmiahnya.

As Suyuthi memulai kesibukannya dalam mencari ilmu pada usia empat belas tahun. Dia mengaku: “Aku mulai menyibukkan diri dengan pendalaman ilmu din sejak permulaan tahun 864 H. aku pelajari fiqih, nahwu dari sejumlah guru. Aku mengkaji ilmu faraidh (ilmu waris) dari ‘Allamah Syihabuddin Asy Syarmasahi. Dengan syaikh ini, aku mempelajari kitab Al Majmu’. Pada tahun 866 H, aku sudah mendapat rekomendasi untuk mengajar bahasa arab dan sempat menulis kitab pertamaku yang berjudul Syarah Al Isti’adzah Wal Basmalah.” (Husnul Muhadharah 1/337), ia belajar kepada Sirajuddin Al Bulqini. Tafsir ia reguk dari Asy Syaraf Al Manawi. Ilmu Bahasa Arab dari Taqiyyudin Asy Syumani dan Muhyiddin Ar Rumi.

Berkaitan dengan ilmu hadits, ia menjumpai ulama senior dalam bidang itu, sehingga dapat mempelajari kitab Ummahatu Kutubil Hadits (buku-buku induk hadits) dan musthalah kepada ulama yang berkompeten dalam bidang tersebut. Misalnya, Taqiyyuddin Asy Syibli, Qasim bin Qathlu Bugha dan Taqiyyuddin bin Fahd. Kitab Shahih Muslim ia pelajari dari Syamsuddin As Sairafi. Kitab Nukhbatul Fikr ia kaji di hadapan At Taqiyyi Asy Syumani.

Para guru As Suyuthi juga tidak terbatas kaum lelaki saja. Dia juga sempat belajar dari beberapa guru wanita yang ahli dalam bidang hadits maupun fiqih pada masa itu. Di antara mereka, Ummu Hana Al Mishriyyah, ‘Aisyahbinti Abdil Hadi, Sarah binti As Siraj bin Jama’ah, Zainab binti Muhammad Al Maqdisi.
Guna menimba ilmu, dia tak segan-segan berkeliling kota di banyak negeri, untuk menjumpai ulama lainnya yang ahli di bidangnya. Kota-kota di Syam, Hijaz, India, Maroko, Sudan pernah ia jelajahi. Tatkala sampai di Mekkah, pada Rabiul Awwal 869 H untuk menunaikan ibadah haji, ia meneguk air Zam Zam seraya berdoa agar mencapai derajat ilmiah dalam fiqih sekelas Sirajuddin Al Bulqini, dan dalam bidang hadits sekelas Al Hafizh Ibnu Hajar.

Dalam perjalanan thalabul ‘ilminya, ia mempunyai prinsip dalam mencari ilmu, yaitu menerapkan dua manhaj talaqqi ilmu (metode mencari ilmu). Pertama, memilih satu guru dan bermulazamah kepada guru tersebut dalam waktu yang cukup, atau sampai sang guru meninggal dunia. Kedua, dalam mencari ilmu ia tidak membatasi diri pada syaikh-syaikh tertentu saja. Walaupun ia seorang yang bermadzhab Syafi’i dalam fiqih, ternyata tidak menghalanginya untuk mendalami fiqih dari Izzudin Al Hambali dan Aminuddin Al Hanafi.

Berkat ketekunan dan ketelatenannya dalam memperdalam ilmu, akhirnya As Suyuthi mampu menguasai ilmu agama. Tidak hanya dalam satu bidang disiplin ilmu saja ia menjadi kampiunnya, tetapi lebih dari satu. Dia pernah berkata: “Aku dikaruniai kedalaman ilmu dalam tujuh bidang, yaitu : tafsir, hadits, fiqih, nahwu, al ma’ani, al bayan dan al ba’di”. (al ma’ani dan al ba’di adalah cabang-cabang ilmu dalam sastra Arab)

Dalam kesempatan lain, ia berkata tentang dirinya : “Kalau aku mau, aku akan menulis sebuah karya tulis dalam setiap permasalahan, lengkap dengan keterangan para ulama dan dalil-dalilnya yang naqli ataupun qiyasi dan komparasi (perbandingan) antar madzhab, namun itu semua dengan pertolongan Allah, bukan lantaran kemampuanku atau kekuatanku”.

Pertama kali ia mengeluarkan fatwa terjadi pada tahun 871 H. Ketika itu, kemampuan ilmiahnya sudah mumpuni dan para muridnya sudah banyak, sehingga banyak pertanyaan diarahkan kepadanya dari banyak tempat. Dari sini, ia mulai berfatwa dan menjawab permasalahan agama. Fatwa-fatwa ulama ini bisa dijumpai melalui kitabnya yang berjudul Al Hawi. Beliau masih memberikan fatwa sampai ia meninggalkan gelanggang ini dan memilih hidup menyendiri di kediamannya di Raudhah.

Ada beberapa jabatan yang ia pegang semasa hidupnya. Semuanya tidak lepas dari dunia keilmuan. Pertama kali, ia mengajar Bahasa Arab dengan rekomendasi gurunya yang bernama Taqiyyuddin Asy Syumani. Kemudian kesibukannya bertambah di Jami’ Asy Syaikhuni, Jami’ Thalani dan secara khusus mengajar hadits di Syaikhuniyah.

Hubungannya dengan para khalifah Abbasiyah terjalin dengan baik, tumbuh berdasarkan rasa kasih sayang. Saling menasehati dan memberi pengertian menghiasi persahabatan mereka. Dia menjalin hubungan yang baik ini lantaran meyakini, keharusan khilafah berada di tangan orang-orang keturunan suku Quraisy. Adapun hubungan dengan para penguasa Daulah Mamalik yang menguasai Mesir, ia sangat menjaga diri.

Dia sempat menjumpai lima belas penguasa Daulah Mamalik dan berhubungan juga dengan mereka, tetapi dengan penuh kewaspadaan diri dan menjaga izzah. Hingga kemudian ia tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan mereka. Dalam hal ini ia menulis kitab Ma Rawahu As Salathin Fi Adami Al Maji Ila As Salathin. Salah seorang penguasa Daulah Mamalik sering memintanya untuk datang ke istana, tetapi ia tidak pernah menyambut permintaan itu. Sampai ada yang berkomentar kepadanya : “Sesungguhnya sebagian orang ‘alim kerap datang kepada penguasa dan raja untuk menyelesaikan persoalan masyarakat”. As Suyuthi menjawab : “Petunjuk Salaf yang menganjurkan untuk tidak sering-sering mengunjungi mereka, itu adalah lebih baik”.

Meski begitu, ternyata tokoh-tokoh negara tetap mengunjunginya. Demikian juga orang-orang kaya. Sering dalam kunjungan itu mereka menawarkan harta benda, namun As Suyuthi menolaknya dan mengembalikan kepada sang pemilik.

Pada usia empat puluh tahun, ia memohon diri dari mengajar, untuk menyendiri. Permohonan diri ini ia tulis dalam bukunya At Tanfis. Setelah itu, kesibukannya lebih banyak untuk ibadah, mengkaji ulang tulisannya dan menjauhi serba-serbi dunia.

Pada akhir usianya, ia ditimpa penyakit yang ganas, bengkak pada lengan kirinya. As Suyuthi meninggal karena pengaruh penyakitnya ini. Menutup usianya pada malam Jum’at, 19 Jumadil Ula 911 H di kediamannya di Raudhah, dekat dengan sungai Nil dalam usia 61 tahun 10 bulan. Pemakamannya dihadiri oleh banyak orang. Semoga Allah mengampuninya dan merahmatinya.

Diambil dari Majalah As Sunnah Edisi 05/IX/1426H/2005M
Oleh Abu Thalhah

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: