Home > Shalat > Shaf Dalam Shalat (1)

Shaf Dalam Shalat (1)

Agar seseorang bisa mengerjakan shalatnya dengan baik, maka dia harus mengetahui segala ilmunya. Karena amal perbuatan yang tidak disertai dengan ilmu, niscaya tidak akan diterima oleh Allah. Dalam hal ini shaf merupakan salah satu bagian penting dalam pelaksanaan ritual shalat berjama’ah.

Dari Jabir ibn Samrah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: “Tidakkah kalian berbaris seperti ketika para malaikat berbaris di hadapan Tuhannya?” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana para malaikat berbaris ketika menghadap Tuhan mereka?” Beliau bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf sebaris demi sebaris. Mereka juga menyempurnakan shaf-shaf tersebut.” (Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Al-Shahih nomor 430 , al Nasaa’i di dalam al mujtabaa (II/72) dan Ibnu Khuzaimah di dalam al Shahih nomor 1544).

Kebanyakan para jama’ah tidak meluruskan shaf shalat dan membiarkan shaf shalat ada yang lobang.
Dari Anas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda yang artinya : “Dirikanlah (luruskanlah) shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari belakang punggungku.” Anas berkata: “Aku telah melihat salah seorang dari kami menempelkan tumitnya dengan kaki yang lain. Jika kamu akan mempraktekkan hal ini di zaman sekarang, pasti kamu akan menjumpai salah seorang dari mereka seperti keledai yang tidak bisa diam.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam al Musnad nomor 3720, al Mukhlis di dalam al Fawaid (I/10/2), Sa’id ibn Manshur di dalam al Sunan, dan al Ismaili sebagaimana di dalam Fath al Baary (II/211). Sanad hadits ini adalah shahih menurut syarat al Bukhari dan Muslim seperti disebutkan di dalam al Silsilah al Shahihah).

Oleh karena itu Busyair ibn Yasar al Anshari mengatakan sebuah riwayat dari Anas bahwa ketika dia datang ke kota Madinah ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Apa yang Anda ingkari dari perbuatan kami sejak sepeninggal Rasulullah?” Dia menjawab: “Tidak ada perbuatan kalian yang aku ingkari kecuali ketika kalian tidak meluruskan shaf-shaf kalian.” (Diriwayatkan oleh al Bukhary di dalam al Shahih nomor 724).
Al Nu’man ibn Basyir Radhiallahu ‘Anhu juga menjelaskan keterangan yang telah dikemukakan oleh Anas ibn Malik tentang perlunya menempelkan lutut. Lantas dia berkata: “Dulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdiri meng-hadap orang-orang seraya bersabda: “Dirikanlah (luruskanlah) shaf-shaf (beliau mengulangnya sebanyak tiga kali). Demi Allah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menceraiberaikan hati kalian.” Al Nu’man berkata: “Lantas aku melihat seseorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, menempelkan lututnya dengan lutut temannya dan menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam al Sunan, Ibn Hibban di dalam al Shahih, Ahmad di dalam al Musnad dan al Daulabi di dalam al Kunaa wa al Asmaa’ dengan sanad yang shahih). Sedangkan al Bukhari meriwayatkan perkataan al Nu’man di dalam kitab al Shahihnya.

Al Albani mengomentari hadits Anas Radhiallahu ‘Anhu dan Nu’man Radhiallahu ‘Anhu di atas sebagai berikut: “Di dalam kedua hadits ini ada beberapa faedah yang sangat penting:

Pertama, mendirikan dan meluruskan shaf hukumnya wajib karena ada perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kalimat perintah itu pada asalnya berarti wajib, kecuali ada qarinah (petunjuk lain) yang mengalihkan dari pengertiannya semula, seperti yang telah ditetapkan dalam kaedah-kaedah ushul al fiqh. Sedangkan qarinah yang ada dalam hadits tersebut malah memperkuat kewajiban hal ini. Qarinah itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya : “…atau Allah akan menceraiberaikan hati kalian.” Pernyataan seperti ini sebenarnya adalah sebuah ancaman, tidak akan dikemukakan untuk sesuatu yang tidak wajib.

Kedua, sesungguhnya meluruskan shaf seperti yang telah disebutkan hanya bisa dilakukan dengan cara menempelkan bahu dengan bahu dan dengan menempelkan sisi kaki. Karena perbuatan inilah yang telah dicontohkan oleh para sahabat Radhiallahu ‘Anhum ketika mereka diperintahkan untuk mendirikan (meluruskan) shaf.” (Lihat Syarh Rawdl al Thaalib karya al Syaikh Zakaria al Anshari).
Dari Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda yang artinya: “Dirikanlah shaf dan luruskanlah antara bahu, tutuplah ruang kosong (di antara shaf) dan janganlah kalian biarkan ada lobang untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambung hubungan dengannya. Dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutus (hubungan) dengannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam al Sunan dan dianggap shahih oleh Ibn Khuzaimah dan al Hakim).

Al Syaikh al Albani berkata di dalam al Silsilah al Dha’ifah (II/323) ketika mengomentari orang-orang yang mengatakan tentang kesunahan mengisi ruang kosong di antara shaf: “Bagaimana mengisi ruang yang kosong di antara shaf dianggap sebagai perbuatan yang sunah saja?” Setelah menyatakan keheranannya itu, al Albani menyebutkan sebuah hadits dan selanjutnya berkata: “Yang benar, menutup ruang kosong di antara shaf hukumnya adalah wajib.”

Ketiga, hati mereka akan saling bermusuhan dan mengalami banyak perselisihan pandangan. Karena di dalam hadits an Nu’man disebutkan sebuah konsep yang cukup terkenal dikalangan ahli jiwa. Konsep itu adalah ‘kerusakan lahir bisa mengakibatkan kerusakan batin, demikian juga sebaliknya. Padahal dalam perintah meluruskan dan merapatkan shaf terdapat unsur perekat jiwa yang akan menjalin hubungan persaudaraan dan keinginan saling tolong-menolong. Bagaimana tidak?! Bukankah bahu si miskin berhimpitan dengan bahu si konglomerat, kaki si kuat melekat dengan kaki si lemah. Dan semuanya berada dalam satu shaf, bagaikan bangunan yang tersusun sangat kuat.

Keempat, mereka kehilangan pahala yang sangat besar seperti yang telah diberitakan dalam beberapa hadits shahih. Di antaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat membacakan shalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf.” (Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam al Musnad, Ibnu Majah di dalam al Sunan dan Ibnu Khuzaimah di dalam al Shahih. Sedangkan sanad hadits ini berkualitas shahih).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya: “Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya). (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam al Sunan Ibnu Khuzaimah di dalam al Shahih. Dan kualitas hadits ini adalah shahih).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling lunak bahunya di dalam shalat (karena mau diseret untuk maju atau bergeser ke samping guna mengisi ruang kosong di dalam shaf). Tidak ada selangkah kakipun yang lebih besar pahalanya dibanding dengan selangkah kaki yang digunakan seseorang untuk berjalan ke sebuah lobang di antara shaf, lantas dia mengisinya.” (Diriwayatkan oleh al Thabrani di dalam al Awsath dan Ibnu Hibban di dalam al Shahih. Lihat juga Majma’al Zawaid dan al Targhiib wa al Tarhiib).
“Barangsiapa yang mengisi lobang di dalam shaf, maka Allah akan mengangkat derajatnya karena upayanya untuk mengisi lobang tersebut. Dan Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di dalam surga.” (Diriwayatkan oleh al Thabrani di dalam al Awsath dari hadits riwayat ‘Aisyah. Begitu juga dengan Ibnu Majah meriwayatkan darinya. Hadits serupa dari Abu Hurairah. Hadits tersebut berkualitas shahih seperti yang tercantum dalam Shahih al Targhiib).

bersambung….

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: