Home > Fiqih > Bimbingan Berhari Raya Idul Fithri (1)

Bimbingan Berhari Raya Idul Fithri (1)

Mengapa Dinamakan ‘Id?

Secara bahasa, ‘id ialah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Sesuatu yang biasa datang dan kembali dari satu tempat atau waktu.
Kemudian, dinamakan ‘id, karena Allah kembali memberikan kebaikan dan berbuka setelah kita berpuasa dan membayar zakatul fithri. Dan dengan disempurnakannya haji, setelah diperintahkan thawaf dan menyembelih binatang kurban. Karena biasanya pada waktu-waktu seperti ini terdapat kesenangan dan kebahagiaan.

As Suyuthi, semoga Allah merahmatinya, berkata, “’Id merupakan kekhususan umat ini. Keberadaan dua hari ‘Id, merupakan rahmat dari Allah kepada umat ini. Dari Anas, semoga Allah meridloinya, ia berkata, “Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah dan penduduk Madinah mempunyai dua hari raya. Pada masa jahiliyah, mereka bermain pada dua hari raya tersebut. Beliau bersabda, ”Aku datang dan kalian mempunyai dua hari raya, yang kalian bermain pada masa Jahiliyah. Kemudian Allah mengganti dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari Nahri (kurban) dan hari Fitri.” (Dr. Abdullah Ath Thayyar, Ahkam Al ‘Idain wa ‘Asyri Dzil Hijjah, hlm.9)

Hal-Hal yang Disunnahkan Pada Hari ‘Id

Ada beberapa amalan yang disunnahkan bagi kita pada hari yang berbahagia ini, diantaranya :

1. Mandi.

Pada hari ‘Id, disunnahkan untuk mandi. Karena pada hari tersebut kaum muslimin akan berkumpul, maka disunnahkan mandi seperti pada hari Jum’at. Namun, bila seseorang hanya berwudlu saja maka sah baginya. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 3/257). Dan kaifiyatnya (caranya) seperti mandi janabat. Nafi’ menceritakan, dahulu pada ‘Idul Fithri, Ibnu ‘Umar, semoga Allah meridloi keduanya, mandi sebelum ke tanah lapang. (Diriwayatkan Imam Malik dalam Al Muwatha’, 1/177). Sa’id Ibnul Musayyib berkata, “Sunnah pada hari ‘Idul Fithri ada tiga. (Yaitu) : berjalan kaki menuju tanah lapang, makan sebelum keluar dan mandi. (Irwa’ul Ghalil, 2/104).

2. Berhias sebelum berangkat shalat ‘Id

Disunnahkan umtuk membersihkan diri dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak. Dari Ibnu ‘Abbas, semoga Allah meridloi keduanya, ia berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ يَوْمَ الْعِيْدِ بُرْدَةً حَمْرَاءَ
Adalah Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam pada hari ‘Id, beliau mengenakan burdah warna merah. (Ash Shahihah, 1/279)
Imam Malik, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Saya mendengar Ahlul ‘Ilmi, mereka menganggap sunnah memakai minyak wangi dan berhias pada hari ‘Id.” ( Al Mughni, 3/258 )
Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Dahulu ketika keluar pada shalat dua hari raya, Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam mengenakan pakaian yang terindah. Beliau memiliki yang dikenakannya untuk dua hari raya dan hari Jum’at. Suatu waktu beliau mengenakan dua pakaian hijau, dan terkadang mengenakan burdah (kain selimut warna merah).” (Zaadul Ma’ad, 1/426).
Sedangkan bagi kaum wanita, tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah, atau mengenakan minyak wangi. Dan hendaknya mereka menjauh dari kaum lelaki agar tidak menimbulkan fitnah, sebagaimana realita yang kita lihat pada zaman sekarang.

3. Makan sebelum shalat ‘Idul Fithri

Dari Anas, semoga Allah meridloinya, ia berkata :
كَانَ رَسُلْ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ اْلفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاةٍ
Adalah Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar untuk shalat ‘Idul Fithri sehingga beliau makan beberapa kurma. (H.R. Al Bukhari)

Dan dari Buraidah, semoga Allah meridloinya, ia berkata :
كَانَ النبي صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَسْتَخْرُجُ يَوْمَ اْلفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَ يَوْمَ النَّحْرِ لاَ يَأْكُلُ حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلُ مِنْ نَسِيْكَتِهِ
Adalah Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar pada hari ‘Idul Fithri, sehingga beliau makan. Dan beliau tidak makan pada hari ‘Idul Adh-ha sehingga beliau pulang ke rumah, kemudian makan dari daging kurbannya. (H.R. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Dahulu sebelum keluar untuk shalat ‘Idul Fithri, Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam makan beberapa kurma, dengan jumlah yang ganjil. Dan pada hari ‘Idul Adh-ha, beliau tidak makan sehingga kembali dari tanah lapang, maka beliau makan dari daging kurbannya.” (Zaadul Ma’ad, 1/426)

4. Mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari shalat ‘Id

Disunnahkan untuk menyelisihi jalan, yaitu dengan mengambil satu jalan ketika berangkat menuju shalat ‘Id dan melewati jalan yang lain ketika pulang dari tanah lapang. Dari Jabir, semoga Allah meridloinya, ia berkata :
كَانَ النبي صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدٍ خَالَفَ الطَّرِيْقَ
Adalah Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam, ketika hari ‘Id, beliau mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang. (H.R. Al Bukhari di dalam bab Al ‘Idain)

Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Dahulu Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam, keluar dengan berjalan kaki dan beliau menyelisihi jalan, yaitu berangkat lewat satu jalan dan kembali lewat jalan yang lain.” (Zaadul Ma’ad, 1/432)

Hukum mengambil jalan yang berbeda ini hanya khusus pada dua hari ‘Id. Tidak disunnahkan untuk amalan lainnya, seperti shalat Jum’at, sebagaimana disebutkan Ibnu Dhuwaiyan di dalam kitab Manarus Sabil 1/151. Atau dalam masalah amal shalih yang lain, Imam An Nawawi menyebutkan di dalam kitab Riyadhush Shalihin, bab disunnahkannya pergi ke shalat ‘Id, menjenguk orang sakit, pergi haji, perang, mengiringi jenazah dan yang lainnya dengan mengambil jalan yang berbeda, supaya memperbanyak tempat-tempat ibadahnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Hal seperti ini tidak bisa diqiyaskan. Terlebih lagi amalan-amalan tersebut ada pada zaman Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak pernah dinukil bahwa beliau mengambil jalan yang berbeda kecuali pada dua hari ‘Id. Kita mempunyai satu kaidah yang penting bagi thalibul ‘ilmi, segala sesuatu yang ada sebabnya pada zaman Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tidak mengerjakannya, maka amalan tersebut tertolak.” Hingga Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Maka yang benar ialah pendapat yang mengatakan mengambil jalan yang berbeda khusus pada dua shalat ‘Id saja, sebagaimana yang zhahir dari perkataan muallif –Al Hajjawi di dalam Zaadul Mustaqni’—karena ia tidak menyebutkan pada hari Jum’at, tetapi hanya menyebutkan pada dua hari ‘Id. Hal ini menunjukkan, bahwa dia memilih pendapat tidak disunnahkan mengambil jalan yang berbeda kecuali pada dua hari ‘Id”. (Asy Syarhul Mumti’, 5/173-175)

5. Bertakbir

Allah berfirman yang artinya:
Dan supaya kalian sempurnakan hitungan Ramadhan dan bertakbirlah karena yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian, semoga kalian bersyukur. (Q.S Al Baqarah : 185)

Waktu bertakbir dimulai setelah terlihatnya hilal bulan Syawwal, hal ini jika memungkinkan. Dan jika tidak mungkin maka dengan datangnya berita atau ketika terbenamnya matahari pada tanggal 30 Ramadhan. Kemudian takbir ini hingga imam selesai dari khutbah ‘Id. Demikian menurut pendapat yang benar diantara pendapat ahlul ‘ilmi. Akan tetapi kita tidak bertakbir ketika mendengarkan khutbah, kecuali jika mengikuti takbirnya imam. Dan ditekankan untuk bertakbir ketika keluar dari rumah atau ketika menunggu imam datang. (Ahkamul ‘Idain, 24)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allah merahmatinya, berkata : “Takbir pada hari ‘Idul Fithri dimulai ketika terlihatnya hilal, dan berakhir dengan selesainya ‘Id. Yaitu ketika imam selesai dari khutbah, (demikian) menurut pendapat yang paling benar”. (Majmu’ Fatawa, 24/220,221)

Adapun sifat (sighat) takbir dalam hal ini terdapat keluasan. Telah datang satu riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud, semoga Allah meridloinya, bahwa ia bertakbir pada hari tasyriq dengan genap (dua kali) mengucapkan lafadz Allahu akbar. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan sanadnya shahih, akan tetapi disebutkan di lafadz lain dengan tiga kali. Sehingga bacaan takbirnya yaitu :
اللهُ أَكْبَرُ , اللهُ أَكْبَرُ , ( اللهُ أَكْبَرُ ) لاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ اللهُ أَكْبَرُ , اللهُ أَكْبَرُ َوِللهِ اْلحَمْدُ

Tidak selayaknya bertakbir secara jama’i, yaitu berkumpul sekelompok orang untuk melafadzkan satu suara, atau satu orang memberi komando kemudian diikuti sekelompok orang tersebut. Karena amalan seperti ini tidak pernah dinukil dari Salaful Ummah. Yang sunnah, setiap orang bertakbir sendiri-sendiri. Seperti ini pula pada setiap dzikir, atau ketika memanjatkan do’a-do’a yang masyru’ pada setiap waktu. (Ahkamul ‘Idain, Ath Thayyar, hlm. 30)

Syaikh Al Albani, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Patut untuk diberi peringatan pada saat sekarang ini, bahwa mengeraskan suara ketika bertakbir tidak disyariatkan secara berjamaah dengan satu suara, sebagaimana yang dikerjakan oleh sebagian orang. Demikian pula pada setiap dzikir yang dibaca dengan keras atau tidak, maka tidak disyariatkan untuk berjamaah. Hendaknya kita waspada terhadap masalah ini”. (Silsilah Al Ahadits Shahihah, 1/121)

Hukum Shalat ‘Id

Hukum shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang untuk mengerjakannya. Dari Ummu ‘Athiyyah, semoga Allah meridloinya, ia berkata :

أَمَرَنَا –تَعْنِي الَّنِبَّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ – أَنْ نُخْرِجَ فِي اْلعِيْدَيْنِ اْلعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَا مُصَلَّى الْمُسْلِمِيْنَ
Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami (kaum wanita) untuk keluar mengajak ‘awatiq (wanita berusia muda) dan gadis yang dipingit. Dan beliau memerintahkan wanita haid untuk menjauhi mushalla (tempat shalat) kaum muslimin. (Muttafaqun ‘alaihi)

Dahulu Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaga untuk mengerjakan shalat ‘Id. Ini merupakan dalil wajibnya shalat ‘id. Dan karena shalat ‘id menggugurkan kewajiban shalat Jum’at, jika ‘id jatuh pada hari Jum’at. Sesuatu yang bukan wajib, tidak mungkin akan menggugurkan satu kewajiban yang lain. Lihat At Ta’liqat Ar Radhiyah, Syaikh Al Albani, 1/380.

Pendapat yang mengatakan bahwa shalat ‘id adalah fardhu ‘ain, merupakan madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Begitu pula pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dia mengatakan di dalam Majmu’ Fatawa (23/161), sebagai berikut : “Oleh karena itu, kami merajihkan bahwa hukum shalat ‘id adalah wajib ‘ain. Adapun pendapat yang mengatakan tdak wajib adalah perkataan yang sangat jauh dari kebenaran, karena shalat ‘id termasuk syi’ar Islam yang terbesar. Kaum muslimin yang berkumpul pada hari ini lebih banyak daripada hari Jum’at. Demikian pula disyari’atkan pada hari itu untuk bertakbir. Adapun pendapat yang mengatakan hukumnya fardhu kifayah, tidak tepat”.

Waktu Shalat ‘Idul Fthri

Sebagian besar Ahlul ‘Ilmi berpendapat bahwa waktu shalat ‘id adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari. Yakni waktu Dhuha.
Juga disunnahkan untuk mengakhirkan shalat ‘idul fithri agar kaum muslimin memperoleh kesempatan menunaikan zakatul fithri.

Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Dahulu Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan shalat ‘idul fithri dan menyegerakan shalat ‘idul adh-ha. Sedangkan Ibnu ‘Umar, semoga Allah meridloi keduanya, seorang shahabat yang sangat berpegang kepada Sunnah, dia tidak keluar hingga terbit matahari”. (Zaadul Ma’ad, 1/427)

Tempat Mendirikan Shalat ‘Id

Disunnahkan mengerjakan shalat ‘id di mushalla, yaitu tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali jika ada udzur. Misalnya: hujan, angin kencang dan lainnya maka boleh dikerjakan di masjid.
Ibnu Qudamah, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Mengerjakan shalat ‘id di tanah lapang adalah sunnah, karena dahulu Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya. Demikian pula Khulafaur Rasyidin. Dan ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Mereka telah sepakat di setiap zaman dan tempat untuk keluar ke tanah lapang ketika shalat ‘id”. (Al Mughni, 3/260)

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: