Home > Fiqih > Bimbingan Berhari Raya Idul Fithri (2)

Bimbingan Berhari Raya Idul Fithri (2)

Tidak Ada Adzan dan Iqamah Sebelum Shalat ‘Id

Dari Ibnu ‘Abbas dan Jabir, semoga Allah meridloi keduanya, keduanya berkata :
لَمْ يَكُنْ يُأَذِّنُ يَوْمَ اْلفِطْرِ وَلاَ يَوْمَ اْلأَضْحَى
Tidak pernah ada adzan pada hari ‘Idul Fithri dan hari ‘Idul Adh-ha. (Muttafaqun ‘alaihi)

Dari Jabir bin Samurah, semoga Allah meridloinya, ia berkata :
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اْلعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ
Saya shalat bersama Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam pada dua hari raya, sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tanpa iqamat. (H.R. Muslim)

Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Dahulu ketika Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam sampai ke tanah lapang Beliau memulai shalat tanpa adzan dan iqamat ataupun ucapan “ash shalatu jami’ah”. Dan yang sunnah, untuk tidak dikerjakan semua itu”. (Zaadul Ma’ad, 1/427)

Shifat Shalat ‘Id

Shalat ‘id dikerjakan dua raka’at, bertakbir di dalam dua raka’at tersebut 12 kali takbir, 7 kali pada raka’at pertama setelah takbiratul ihram dan sebelum qiraah, dan 5 kali takbir pada raka’at kedua sebelum qiraah.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيْدَيْنِ سَبْعًا فِي اْلأُوْلَى وَخَمْسًا فِي اْلآخِرَةِ
Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam bertakbir pada dua shalat ‘id tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua. (H.R. Ibnu Majah)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَبَّرَ فِي اْلفِطْرِ َواْلأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا سِوَا تَكْبِيْرَتَيْ الُّركُوْعِ
Dari ‘Aisyah, sesungguhnya Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam bertakbir pada shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha tujuh kali dan lima kali, selain dua takbir ruku’. (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah. Lihat Irwa’ul Ghalil, 639)

Ibnul Qayyim,semoga Allah merahmatinya, berkata, “Beliau memulai shalat ‘id sebelum berkhutbah. Beliau shalat dua raka’at. Bertakbir pada raka’at pertama, tujuh kali takbir yang beruntun setelah takbir iftitah. Beliau diam sejenak antara dua takbir. Tidak diketahui dzikir tertentu antara takbir-takbir ini. Akan tetapi (ada) disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud, semoga Allah meridloinya, memuji Allah, menyanjung-Nya dan mengucapkan shalawat kepada Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam (di antara dua takbir tersebut), sebagaimana disebutkan oleh Al Khallal.

Dan Ibnu ‘Umar, semoga Allah meridloi keduanya, merupakan seorang shahabat yang sangat tamassuk (berpegang teguh) dengan sunnah. Beliau mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir. Dan setelah menyempurnakan takbirnya, Nabi memulai qiraah. Beliau membaca Al Fatihah, kemudian membaca surat Qaaf pada salah satu raka’at. Pada raka’at yang lain, membaca surat Al Qamar. Terkadang membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiyah. Telah sah dari beliau dua hal ini, dan tidak sah riwayat yang menyatakan selainnya. Ketika selesai membaca beliau bertakbir dan ruku’. Kemudian apabila telah menyempurnakan raka’at yang pertama, beliau bangkit dari sujud dan bertakbir lima kali secara beruntun. Setelah itu beliau membaca. Maka takbir merupakan pembuka di dalam dua raka’at, kemudian membaca, dan setelah itu ruku’”. (Zaadul Ma’ad, 1/427)

Apakah Ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah ‘Id?

Tidak disunnahkan shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat ‘id. Disebutkan dari Ibnu ‘Abbas :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنْ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا
Sesungguhnya Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam shalat ‘Idul Fithri dua raka’at, tidak shalat sebelumnya atau sesudahnya. (H.R. Bukhari)

Imam Ahmad, semoga Allah merahmatinya, berkata : “Sama sekali tidak ada satu shalat sunnah saat sebelum atau sesudah ‘id’. Kemudian dia ditanya: “Bagaimana dengan orang yang ingin shalat pada saat itu?” Dia menjawab: “Saya khawatir akan diikuti oleh orang yang melihatnya. Ya’ni jangan shalat”. (Al Mughni, Ibnu Qudamah, 3/283)

Al Hafidz Ibnu Hajar, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Kesimpulannya, pada shalat ‘id tidak ada shalat sunnah sebelum atau sesudahnya, berbeda dari orang yang mengqiyaskan dengan shalat Jum’at. Namun shalat sunnah muthlaqah tidak ada dalil khusus yang melarangnya, kecuali jika dikerjakan pada waktu yang makruh seperti pada hari yang lain”. (Fath-hul Bari, 2/476)

Apabila shalat ‘id dikerjakan di masjid karena adanya udzur maka diperintahkan shalat dua raka’at tahiyyatul masjid. Wallahu a’lam.

Apabila Seseorang Tertinggal Dari Shalat ‘Id Apakah Perlu Mengqadha?

Dalam masalah ini, Syaikh Ibnu Utsaimin, semoga Allah merahmatinya, menyatakan di dalam Asy Syarhul Mumti’ 5/208: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat tidak diqadha. Orang yang tertinggal atau luput dari shalat ‘id tidak disunnahkan untuk mengqadha’nya, karena hal ini tidak pernah ada dari Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam. Dan karena shalat ‘id merupakan shalat yang dikerjakan dengan berkumpul secara khusus. Oleh karena itu tidak disyari’atkan kecuali dengan cara seperti itu”.

Kemudian Syaikh Ibnu Utsaimin juga berkata: “Shalat Jum’at juga tidak diqadha. Tetapi bagi orang yang tertinggal, ia mengganti shalat Jum’at dengan shalat fardhu pada waktu itu. Yaitu Dhuhur. Pada shalat ‘id apabila tertnggal dari jama’ah maka tidak diqadha, karena pada waktu itu tidak terdapat shalat fardhu ataupun shalat sunnah”.

Khutbah ‘Idul Fithri

Dalam Shahihain dan yang lainnya disebutkan :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ
Adalah Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam keluar ke tanah lapang pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Pertama kali yang beliau kerjakan adalah shalat, kemudian berpaling dan berdiri menghadap manusia, dan mereka tetap duduk di barisan mereka. Kemudian Beliau memberikan mau’izhah, wasiat dan memerintahkan mereka. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam masalah khutbah ‘id ini, seseorang tidak wajib mendengarkannya. Dibolehkan untuk meninggalkan tanah lapang seusai shalat. Tidak sebagaimana khutbah Jum’at yang wajib bagi kita untuk menghadirinya.

Di dalam hadits ‘Abdullah bin As Sa’id, semoga Allah meridloinya, ia berkata :
شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْعِيْدَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَةَ قَالَ إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ
Saya menyaksikan shalat ‘Id bersama Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam. Ketika selesai, beliau berkata: “Kami sekarang berkhutbah. Barangsiapa yang mau mendengarkan, silakan duduk. Dan barangsiapa yang mau pergi, silakan pergi”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah. Lihat Irwa’ul Ghalil 3/96)

Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Dahulu apabila Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan shalat beliau berpaling dan berdiri di hadapan para shahabat, sedangkan mereka duduk di barisan mereka. Beliau memberikan mau’izhah (nasihat), wasiat dan memerintahkan serta melarang mereka. Beliau membuka khutbah-khutbahnya dengan memuji Allah. Tidak pernah diriwayatkan dalam satu hadits pun bahwasanya beliau membuka dua khutbah pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha dengan bertakbir. Dan diberikan rukhshah bagi orang yang menghadirinya untuk mendengarkan atau pergi”. (Zaadul Ma’ad, 1/429)

Apabila Hari ‘Id Bertepatan Dengan Hari Jum’at

Apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka kewajiban shalat Jum’at bagi orang yang telah menghadiri shalat ‘id menjadi gugur. Tetapi bagi penguasa sebaiknya memerintahkan agar didirikan shalat Jum’at, supaya dihadiri oleh orang yang tidak menyaksikan ‘id atau bagi yang ingin menghadiri shalat Jum’at dari kalangan orang yang telah shalat (tidak hadir). Dan sebagai pengganti Jum’at bagi orang yang tidak shalat Jum’at adalah shalat Dhuhur. Tetapi yang lebih baik adalah menghadiri keduanya. (Lihat Ahkamul ‘Idain, Ath Thayyar, hlm.18; Majalis ‘Asyri Dzil Hijjah, Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan, hlm.107)

Dari Abu Hurairah, semoga Allah meridloinya, dari Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata:
قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ
Telah berrkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau, maka shalat ‘Id telah mencukupi dari Jum’at. Akan tetapi kami mengerjakan shalat Jum’at. (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah).

Mengucapkan Selamat Pada Hari ‘Id

Syaikhul Islam ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari ‘Id. Beliau menjawab: “Mengucapkan selamat pada hari ‘id ; apabila seseorang bertemu saudaranya, kemudian dia berkata (تَقَبَّلَ الله مِنَّا وَ مِنْكُمْ) (semoga Allah menerima amal kebaikan dari kami dan dari kalian), atau ( أَعَادَهُ اللهُ عَلَيْكَ) (semoga Allah memberikan kebaikan kepada anda) atau semisalnya, dalam seperti ini telah diriwayatkan dari sekelompok diantara para shahabat, bahwa mereka dahulu mengerjakannya. Dan diperbolehkan oleh Imam Ahmad dan selainnya. Imam Ahmad berkata: “Saya tidak memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘id. Namun jika seseorang menyampaikan selamat kepadaku, aku akan menjawabnya, karena menjawab tahiyyah (salam/selamat,pen.) hukumnya wajib. Adapun memulai ucapan selamat ‘id bukan merupakan sunnah yang diperintahkan dan tidak termasuk sesuatu yang dilarang. Barangsiapa yang mengerjakannya, maka ada contohnya, dan bagi yang tidak mengerjakannya ada contohnya juga”. (Majmu’ Fatawa, 24/253, Al Mughni, 3/294). Wallahu a’lam bish shawab.

Diambil dari Majalah As Sunnah, Edisi 07/VIII/1425H/2004M
Ditulis oleh Abu Thalhah

  1. August 28, 2008 at 9:44 am

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: