Home > Tazkiyatun Nafs > Terapi Rasulullah Menyembuhkan Penyakit Cinta (1)

Terapi Rasulullah Menyembuhkan Penyakit Cinta (1)

Virus hati yang bernama al-isyq (cinta), ternyata telah memakan banyak korban. Mungkin anda pernah mendengar seorang remaja nekad bunuh diri disebabkan putus cinta atau tertolak cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qois yang tergila-gila pada Laila. Kisah cinta yang bermula sejak mereka bersama menggembala domba sewaktu kecil hingga dewasa. Akhirnya sungguh tragis, Qois benar-benar menjadi gila ketika Laila dipersunting oleh pria lain. Apakah anda pernah mengalami problema seperti ini atau sedang mengalaminya? Mari kita simak terapi mujarab yang disampaikan Ibnul Qoyyim dalam karya besarnya Zaadul Ma’ad.

Beliau berkata,”Gejolak cinta merupakan jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus. Disebabkan berbeda dengan jenis penyakit lain baik dari segi bentuk, penyebab maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.”

Allah mengisahkan penyakit ini dalam Al-Quran tentang dua tipe manusia. Pertama wanita, dan kedua kaum homoseks yang cinta kepada mardan (anak laki-laki yang rupawan). Allah mengisahkan bagaimana penyakit ini telah menyerang istri Al-Aziz (gubernur Mesir) yang mencintai Nabi Yusuf dan menimpa kaum Luth. Allah mengisahkan kedatangan para malaikat ke negeri Luth,
“Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata,”Sesungguhnya mereka adalah tamuku maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku) dan bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.” Mereka berkata,”Dan bukanlah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia ?” Luth berkata,”Inilah putrid-putri (negeri)-ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal).” (Allah berfirman), “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).” (QS Al-Hijr : 67-72)

Kebohongan Kisah Cinta Nabi Dengan Zainab Binti Jahzy

Ada sekelompok orang yang tidak mengetahui cara menempatkan kedudukan Rasul sebagaimana layaknya. Beranggapan, bahwa Rasulullah tak luput dari penyakit ini. Konon sebabnya ialah tatkala Beliau s.a.w. melihat Zainab binti Jahzy, seraya berkata kagum, “Maha Suci Rabb yang membolak-balik hati.” Sejak itu Zainab mendapat tempat khusus di dalam hati Rasulullah s.a.w. Oleh karena itu Beliau berkata kepada Zaid bin Haritsah, ‘Tahanlah ia di sisimu hingga Allah menurunkan ayat yang artinya,
“Dan ingatlah, ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu juga telah memberi nikmat kepadanya,”Tahanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah,”sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab : 37)

Sebagian orang beranggapan, ayat ini turun berkenaan kisah kasmaran Nabi. Bahkan sebagian penulis mengarang buku khusus mengenai kisah kasmaran para nabi dan menyebutkan kisah Nabi ini di dalamnya. Hal ini terjadi, karena kejahilannya terhadap Al Quran dan kedudukan para Rasul. Hingga memaksakan kandungan ayat dengan apa yang tidak layak dikandungnya. Menisbatkan perbuatan Rasulullah yang seolah Allah menjauh dari diri Beliau. Padalah kisah sebenarnya, bahwasannya Zainab binti Jahzy adalah istri Zaid bin Haritsah (bekas budak Rasulullah) yang diangkatnya sebagai anak dan dipanggil dengan Zaid bin Muhammad. Zainab merasa lebih tinggi dibanding Zaid. Oleh sebab itu Zaid ingin menceraikannya. Zaid datang menemui Rasulullah minta saran untuk menceraikannya. Maka Rasulullah menasehatinya agar tetap memegang Zainab. Sementara Beliau pun tahu, bahwa Zainab akan dinikahinya jika dicerai Zaid. Beliau takut akan cemoohan orang-orang jika mengawini wanita bekas istri anak angkatnya. Inilah yang disembunyikan Nabi s.a.w. dalam dirinya. Oleh karena itu Allah menyebutkan karunia yang dilimpahkanNya kepada Beliau dan tidak mencelanya karena hal tersebut. Sambil menasehatinya agar tidak perlu takut kepada manusia dalam hal-hal yang memang Allah halalkan baginya. Sebab Allahlah yang seharusnya ditakuti. Jangan sampai Beliau s.a.w. takut berbuat sesuatu hal yang Allah halalkan karena takut gunjingan manusia. Setelah itu Allah memberitahukan bahwa Allah langsung yang akan menikahkannya setelah Zaid menceraikan istrinya. Agar Beliau menjadi contoh bagi umatnya mengenai bolehnya menikahi bekas istri anak angkat. Adapun menikahi bekas istri anak kandung, maka hal ini terlarang sebagaimana firman Allah yang artinya,
“(dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu)”. (QS. An-Nisa’ : 23)

Allah berfirman dalam surat lain yang artinya:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu.” (QS. Al-Ahzab : 40)

Allah berfirman di pangkal surat ini yang artinya,
“dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja.” (QS. Al-Ahzab : 4)

Perhatikanlah bagaimana pembelaan terhadap Rasulullah ini dan bantahan terhadap orang-orang yang mencelanya. Wabillahit taufiq.
Tidak dipungkiri bahwa Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya. ‘Aisyah adalah istri yang paling dicintainya. Namun kecintaannya kepada ‘Aisyah dan kepada lainnya tidak dapat menyamai cintanya tertinggi yakni cinta kepada Rabbnya. Dalam hadits shahih yang artinya,
“Andaikata aku dibolehkan mengambil seorang kekasih dari salah seorang penduduk bumi maka aku akan menjadikan Abu Bakar (sebagai kekasih).” (HR. riwayat Bukhori dan Muslim)

Kriteria Manusia Yang Berpotensi Terjangkit Penyakit Al-Isyq

Penyakit al isyq akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahabbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dariNya dan dipenuhi kecintaan kepada selainNya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu denganNya pasti akan kebal terhadap serangan virus ini, sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf,
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih…. (QS. Yusuf : 24)

Nyatalah bahwa ikhlas merupakan immunisasi manjur yang dapat menolak virus ini dengan berbagai dampak negatifnya, berupa perbuatan jelek dan keji. Artinya memalingkan seseorang dari kemaksiatan harus dengan menjauhkan berbagai sarana yang menjurus ke arah itu.

Berkata ulama salaf, “Penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang dicintai dan dipujanya”. Allah berfirman mengenai ibu Nabi Musa a.s. ,
“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).” (QS. Al-Qashas : 10)

Yakni kosong dari segala sesuatu kecuali Musa, karena sangat cintanya kepada Musa dan bergantungnya hatinya kepada Musa.

bersambung….

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: