Home > Firqoh > Pemboman, Pembunuhan, dan Bom Bunuh Diri, Jihadkah?

Pemboman, Pembunuhan, dan Bom Bunuh Diri, Jihadkah?

Sebagian anak muda dan jama’ah dakwah menerapkan metode perjuangan dengan cara pemboman terhadap bangunan pemerintah atau swasta atau orang kafir, dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh pejabat atau yang lainnya. Mereka menyatakan bahwa ini termasuk jihad, lalu menghalalkan harta, jiwa serta melaksanakan amalan jihad menentang pemerintah atau penguasa yang dianggap kafir, dengan anggapan mendapatkan pahala atas perbuatan tersebut.

Sudah pasti, fenomena pemboman, pembunuhan dan yang sejenisnya, menimbulkan kekacauan, ketakutan dan ketidakamanan. Serta menyebabkan orang-orang dalam keadaan takut dan tidak tenang. Karena orang yang ingin masuk ke dalam bangunan pemerintah atau selainnya, menjadi takut bila terjadi peledakan di bangunan tersebut. Jika mengendarai kendaraan maka takut akan adanya penculikan, pembunuhan atau peledakan pada kendaraannya. Jika bepergian dengan pesawat khawatir akan terjadinya pembajakan atau peledakan. Demikianlah, sehingga kehidupan menjadi tidak tenang, orang tidak dapat bekerja dengan lapang dan nyaman.

Disini mesti kita pertanyakan, mengapa dibunuh dan diculik? Apakah karena kekufuran dan kemurtadannya? Atau karena ia telah merampas harta, kehormatan dan agama? Apakah ia telah diminta bertaubat? Siapa yang telah memintanya bertaubat? Apakah tidak memungkinkan terjadinya pembunuhan terhadap orang lain ketika penculikan atau pengeboman tersebut? Kemudian apa maslahat yang dicapai darinya?

Syaikh Shalih As Sadlan menyatakan:”Ketika mereka berangkat membunuh jiwa-jiwa untuk mewujudkan keinginan mereka, yaitu menyusahkan pemerintah, lalu mereka menghalalkan darah orang-orang Islam yang masih memberikan loyalitas kepada pemerintah dan bekerja di departemen pemerintahan. Terkadang mereka orang-orang Islam yang shalat. Mengapakah mereka menghalalkan darahnya? Karena pemerintah tersebut tidak berhukum dengan syari’at Allah? Karena pemerintah itu berhukum dengan undang-undang buatan manusia, dan karena pemerintah itu memperbolehkan keberadaan minuman keras dan perzinahan secara terang-terangan di negerinya?”

Beliau menyatakan lagi: “Kita bertanya kepada mereka yang melakukan perbuatan seperti ini. Apa kejahatan mereka? Apa yang mereka dapatkan dari aksi ini? Dan apa hasil yang dicapai dari pembunuhan jiwa muslim? Padalah dijelaskan dalam hadits :

لَذَهَابَ الدُّنْيَا كُلِّهَا أَهْوَنُ مِنْ سَفْكِ دَمِّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ
Hancurnya seluruh dunia lebih ringan dari penumpahan darah seorang muslim. (H.R. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan An Nasa’i)

Sungguh mereka yang melakukan perbuatan itu tidak mampu mengukur atau melihat hasilnya tersebut. Kami mengajak mereka untuk menjelaskan hasil sejak pertama memberontak kepada pemerintah dan akibat yang terjadi dari perbuatan merusak, seperti pemboman, pembunuhan dan pembajakan serta sejenisnya. Bukankah hasil yang dirasakan adalah kerusakan dan madharat yang besar kepada orang umum dan khusus? Sungguh kerusakan yang dihasilkan akibat manhaj ini jauh lebih besar dari kemashlahatan yang mereka inginkan, jika disana ada mashlahat yang mu’tabar”.

Di sini ada permasalahan penting yaitu sebagian orang memandang perbuatan ini termasuk bagian jihad. Dan pelakunya jika terbunuh maka dianggap syahid di jalan Allah. Untuk menjelaskan masalah ini dan apakah termasuk mati syahid, maka wajib bagi kita untuk mengetahui apa yang dimaksud mati syahid di jalan Allah.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi, juru nasehat di masjid Nabawi Madinah berkata: “Apabila seorang mujahid terbunuh di medan pertempuran yang terjadi antara kaum muslimin dengan musuhnya, yaitu orang kafir, maka berada dalam dua keadaan. Pertama, Kaum muslimin menyerang negeri kafir untuk memasukkan penduduknya ke dalam rahmat Allah, yaitu Islam agama Allah dan kebahagiaan dunia akherat. Kedua, orang kafir menyerang negeri kaum muslimin, seperti perang uhud, lalu kaum muslimin melawannya, sehingga orang yang gugur dalam medan perang tersebut sebagai orang yang mati syahid.
Maka yang kedua ini seperti yang pertama, yaitu menurut syari’at termasuk mati syahid, sehingga tidak dimandikan, tidak dikafani dan tidak dishalatkan, serta dikuburkan bersama darah dan pakaiannya tersebut. Di sisi Allah, mereka ini hidup dan tidak mati, berdasarkan firman Allah yang artinya:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka. (T.Q.S. Ali Imran : 169,170)

Dan ada satu syarat yang harus ada pada kedua keadaan di atas. Yaitu, peperangan tersebut harus dengan ijin imam kaum muslimin dan di bawah panji panglima mereka. Seandainya seorang muslim berperang sendirian atau bersama beberapa orang tanpa ijin imam kaum muslimin maka peperangan tersebut batil. Jika ia mati, maka tidak dianggap syahid selamanya. Hal itu karena kurangnya syarat, yaitu ijin imam tersebut. Apalagi jika terdapat perjanjian damai antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir tersebut untuk gencatan senjata dan tidak saling mengganggu.

Dari sini, maka pembunuhan dan pemboman yang membunuh anak kecil, orang tua, laki-laki atau perempuan yang dilakukan sebagian pemuda Islam di negeri kaum muslimin, dan dilakukan dengan membawa syi’ar jihad dan memerangi orang zhalim yang tidak berhukum dengan hukum Islam, serta menuntut penerapan hukum Islam dan menegakkan pemerintahan Islam, semuanya adalah amalan yang batil dan rusak. Sama sekali tidak bisa dibenarkan penisbatannya kepada Islam, syari’at Allah dan agamaNya yang benar. Demikian juga seorang muslim tidak diperbolehkan membenarkan dan mendukungnya, meskipun dengan satu kata atau satu dirham. Itu semua hanyalah kezhaliman, kejelekan dan kerusakan di muka bumi ini.

Lebih dari itu, demi Allah, sama sekali tidak akan menumbuhkan kebaikan, apalagi mewujudkan hukum Islam dan pemerintahan Islami. Kenyataan telah membuktikannya. Karena jalan mewujudkan hukum Islam dan pemerintahan Islamiyah, ialah dengan cara masyarakat dan umat ini menundukkan hati dan menghadapkan wajah mereka kepada Allah, sehingga hati dan jiwa mereka menjadi suci, terwujud persatuan dan lurusnya perkara mereka. Hal ini tampak pada kebangkitan meeka untuk melaksanakan kewajiban, meninggalkan yang haram, memenuhi cahaya ilmu Ilahi pada diri meeka dan seluruh aspek kehidupan mereka.

Pandangan selayang kepada sirah (sejarah) Rasulullah dan shahabatnya mendukung hakikat ini dan mengharuskannya. Sungguh, Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam menghabiskan 13 tahun di Mekkah setelah kenabiannya, dengan merasakan gangguan, penentangan dan kecongkakan orang-orang musyrik. Tidak pernah sekalipun Beliau mengatakan dpd salah seorang shahabatnya “Culik Fulan” atau “Bunuh Fulan”. Lalu Beliau berhijrah membawa agama dan dirinya ke Madinah, tinggal dan menetap di sana. Dan tidak pernah memerintahkan seseorang dari shahabatnya untuk membunuh atau menculik seorang dari musuhnya, sampai turun perintah Allah untuk itu dalam firmanNya, yang artinya :
“Telah diijinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (T.Q.S. Al Hajj : 39),
ini terjadi setelah terbentuk satu umat di bawah kepemimpinan Beliau yang bijaksana.

Ini hukum umum. Hendaklah kaum muslimin mengetahuinya, khususnya para ulama mereka yang memilih membolehkan hukum pengeboman dan penculikan ini, dan perbuatan yang menghasilkan pertumpahan darah dan terpenuhinya penjara-penjara serta kejadian-kejadian yang mencoret Islam dengan penuh aib dan kejelekan. Islam berlepas diri dari itu semua”.

Demikianlah mati syahid di jalan Allah, sebagaimana dijelaskan Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi. Tidaklah ada setelah kebenaran, kecuali kesesatan.

Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya : Apakah gerakan bawah tanah disyari’atkan dalam Islam? Khususnya di negeri Islam dan kaum muslimin yang mendapat tekanan?
Beliau menjawab: “Allah berfirman, yang artinya :
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (T.Q.S. Al Baqarah : 286) dan :
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (T.Q.S. At Taghabun : 16 )

Kaum muslimin kaitannya dengan para musuhnya, memiliki dua keadaan. Pertama, kaum muslimin tidak memiliki negara yang melindungi mereka dan tidak memiliki kekuatan yang membela mereka dari para musuhnya. Pada keadaan seperti ini, wajib bagi kaum muslimin berdakwah kepada Allah dan menjelaskan dengan lisan saja, sebagaimana keadaan kaum muslimin bersama Nabi di Makkah sebelum hijrah. Dalam keadaan seperti ini, mereka tidak boleh melakukan penculikan dan gerakan bawah tanah yang menyeret kepada kemudharatan dan dijajah musuh. Karena, mudharat penculikan dan gerakan baeah tanah ini lebih besar dari kemashlahatannya. Kedua, kaum muslimin memiliki negara dan kekuatan serta kemampuan. Dalam keadaan seperti ini, diwajibkan atas mereka dua hal, yaitu berdakwah dan berjihad di jalan Allah tanpa dusta dan khianat, seperti keadaan Nabi dan kaum muslimin setelah hijrah ke Madinah.

Pembagian ini diambil dari sirah (sejarah) Nabi bersama kaum kafir. Beliau merupakan contoh teladan bagi kaum muslimin sampai hari kiamat, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (T.Q.S. Al Ahzab : 21)

Telah jelas bagi kita, bahwa masalah pemboman, pembajakan, penculikan dan sejenisnya termasuk amalan yang merusak dan ditolak secara agama dan akal. Tidak melakukannya kecuali pengikut hawa nafsu atau musuh Islam dan kaum muslimin yang tidak menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin. Adapun orang yang melakukannya dengan keyakinan pemerintahnya telah kafir, sehingga wajib baginya untuk memberontak, maka demikian ini merupakan pendapat yang menyelisihi agama Allah dan RasulNya, juga menyelisihi amalan para salaf umat ini.

Diambil dari majalah As Sunnah Edisi Khusus/Tahun VIII/1425H/2004M

  1. Eko Sujarwo
    August 13, 2008 at 1:11 pm

    bikin hidup yang lebih damai deh… urusan sorga neraka urusan Gusti Allah
    bukan bikib bikinan manusia !.

  2. August 13, 2008 at 5:03 pm

    setuju, kita bikin hidup yang damai dengan mengikuti petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak asal bom, tidak asal bunuh, tidak asal hajar, tidak asal hancurkan dan tidak asal yang tidak benar lainnya. memang surga dan neraka urusan Allah, tp kita harus tahu kenapa manusia bisa masuk surga atau neraka.

  3. August 28, 2008 at 4:02 am

    Allah berfiman dengan Tulisan dan bahasa, Muhamad bersabda dengan Tulisan dan Kata-kata.

    mengapa kita tidak mengajak, orang-orang yang sedang lupa diri dan tidak peduli lingkungan di Diskotik dll, dengan lisan atau tulisan juga?

    Apakah, para orang tua yang berhasil mendidik anaknya, dengan cara-cara kekerasan?, klo anaknya salah harus di bunuh? biar adik-adiknya tidak meniru kesalahan yang sama dengan yang di lakukan kakaknya?

    Apakah, para pengebom itu, dahulunya juga di bunuh dulu oleh Ustadnya jika melakukan dosa, sehingga mereka sekarang menjadi orang yang menganggap dirinya calon penghuni sorga?

    bagaimana, kalo para pengebom itu, di hukum dengan di potong tangannya saja, karena telah mencuri, merampas, merampok hak hidup orang yang di bomnya untuk berkesempatan bertaubat dan menjadikan hidupnya lbh baik?, apakah seorang pemabuk itu sudah pasti akan tetap menjadi pemabuk sampai hari tua?semua pelacur itu akan tetap melacur sampai nenek-nenek?. buat apa diturunkan agama,jika umat manusia tidak diberi kesempatan bertaubat?. buat apa para Ustad, Kyai dan pemuka Agama ada, jika suara mereka harus di gantikan dengan BOM, senjata. yang jelas-jelas senjata seperti itu buatan orang-orang bukan muslim?

    kenapa kita benci terhadap Non Muslim? padahal Allah lebih benci terhadap orang muslim yang Dholim dari pada Non Muslim yang Dholim, orang muslim yang korup menindas dari pada non muslim yang maling?

    Ajak tuh, orang-orang yang kita anggap belum baik, jangan buru-buru di bunuh, ajak dengan kata-kata yang di ambil dari kitab dan hadist.

    Allah tidak pernah menurunkan Wahyu yang bernama “BOM”, tapi cuman menurunkan untaian-untaian kata/bahasa melalui jibril kepada Nabi/rosul untuk disampaikan kepada Umat.Muhammad tidak pernah di ajari Jibril merakit BOM, atau membuat pedang?, Klo pun Muhammad Perang, itu karena terdesak. gimana sobat?

  4. August 28, 2008 at 9:09 am

    Wah, maaf nih. dari komentarnya, kok kesannya malah seperti saya membolehkan pemboman dsb. sih?
    kan maksud saya mencantumkan artikel yg saya dapat itu untuk mengingatkan kita semua bahwa hal2 tsb.
    tidak benar dan tidak pantas ditiru karena tidak sesuai dgn ajaran Nabi kita. Di paragraf terakhir sepertinya sudah tertulis mengenai hal ini.

  5. arvian
    August 30, 2008 at 2:11 am

    artikel yang di buat memang bagus,tapi tolong jangan samakan dengan perjuangan rakyat palesina,yang sekarang sedang berjuang demi sebuah kedaulatan,mereka dijajah,dibunuh,mereka di serang bukan menyerang.sesungguhnya seharus kita malu,sebagai Umat muslim,sakitnya mereka adalah sakitnya kita juga,itu jika anda – anda sekalian adalah seorang Muslim,jangan lah berdiam diri,ulama sekarangpun terpecah belah,ingat di palestina ada sebuah masjid kota ketiga yang muliakan Allah Swt,yang akan di robohkan,
    ,lisan dan tulisan,sudah terucap,Namun tidak lah ada resolusinya,jalan ketiga ialah berperang dengan apapun juga.
    debat kusir tiada akan ada habisnya,ketika debat kusir selesai,selesai pulalah peradaban Islam,(Nauzubill)jika,yang anda mampu bicara bantulah mereka bicara,jika dengan harta bantulah dengan harta jika anda mampu dengan tubuh bantulah dengan tubuh.

    maaf jangan samakan dengan apa yang terjadi di negara ini. itu pun jangan dengan hanya menjust solusi yang kami inginkan

  6. achmad choiruman
    September 3, 2008 at 9:16 am

    Kalo kita tidak paham tentang” jihad fii sabiilillah” jangan ajak-ajak orang, ngebom itu boleh dan harus !!! kalo yang dibom memang kuffar yang jelas-jelas memerangi kita Firman Alloh”qootiluuhum,yuadzdzibuhumullohu..al-aayah dan perangilah mereka dengan itu Alloh mengadzab mereka” dan jelas sesungguhnya wali-wali nya orang-orang mukmin itu tidak lain adalah adalah Alloh, rasul-Nya(nabi Muhammad SAW dan orang-orang mukmin, “innamaa waliyyukumullohu warosuluhu walladziina aamanuu”.orang-orang mukmin dihina, dianiaya, dibunuhi, dibom, dikeluarkan dari rumahnya, diobrakabrik dagangannya, diguna-guna , diperkosa paksa nikah oleh kuffar kita harus bela dgn usaha keras,harta maupun nyawa

  7. achmad choiruman
    September 3, 2008 at 9:32 am

    Alloh tidak pernah mengampuni dosa syirik hambanya(syirik hukum masih ayem dgn hukum kuffar, gaya hidup kuffar, pemikiran kuffar,teman kuffar) yang selalu melemahkan semangat jihad dengan dalih apapun!!! apalagi digaji untuk itu memang!!!naudzu billahi min dzaalik yaa akhii!!!Alloh yahdiikum alfa marroh!!!yaa ukhtii!!! buat apa lembaga pendidikan mewah,mobil mewah,rumah mewah kalo dari pemberian tidak langsung kuffar-kuffar itu,antum sudah tahu tapi dilakukan hanya karena ingin makan enak ???fadzakkir dunia ini sempit memang untuk hanya sekedar berbuat sholih dan hati-hati namun syurga alloh lebih luas nan abadi yg hanya dimasuki hambanya yg bersih hatinya dan rela 100 % menderita,tidak terkenal,ikhlash dibawah kejayaan al-Islaam Allohu akbar3X

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: